Pengamat TV:
Astro Bikin Jurang
Selasa, 07 Agu 2007 10:50 WIB
Jakarta - Secara bisnis tidak ada yang salah dengan hak eksklusif Liga Inggris yang dipegang Astro. Namun sistem TV berbayar dapat menciptakan jurang sosial dalam masyarakat Indonesia."Kalau disebut (menonton pertandingan sepakbola adalah) hak asasi, ya tidak demikian, tapi ini soal kepantasan. Seharusnya ada cara berbisnis yang tidak menyakitkan masyarakat," demikian pengamat televisi Ade Armando dalam bincang-bincangnya dengan detiksport, Selasa (7/8/2007).Yang menyakitkan adalah, selama ini masyarakat terlanjur punya kesempatan menonton sebuah hiburan (olahraga) dengan gratis. Lain hal jika jika sejak awal kondisinya tidak demikian. Dan ketika sudah di-TVberbayar-kan, maka tontonan tersebut menjadi eksklusif dan terbatas."Terjadi jurang kesempatan untuk menikmatinya, antara yang kaya dan miskin. Dengan sistem TV kabel, maka hanya yang mau dan mampu membayar yang dapat. Sedangkan yang tak punya, kesempatan mereka diabaikan begitu saja. Jadi ini tampak tidak adil."Ade mengakui, eksklusivisme hak siar oleh sebuah stasiun televisi adalah sesuatu yang wajar dalam dunia bisnis, di mana yang kuat membayar, dialah yang mendapatkan hak tersebut.Di luar negeri juga memang seperti itu. Inggris misalnya. Hanya saja hak siar Liga Inggris itu dimiliki stasiun televisi satelit. Dan untuk membandingkannya dengan masyarakat Indonesia tidaklah tepat karena rata-rata warga Inggris sanggup dan punya akses untuk TV berbayar."Sebuah tontonan, kalau itu sudah jadi ruang dan tontonan publik, sebaiknya tidak bisa dibatasi. Kalau siaran langsung hadiah Oscar mungkin tak masalah, tapi sepakbola sudah menjadi olahraga masyarakat Indonesia," tandas Ade. (a2s/lom)











































