Tak Ada Liga Inggris, Tak Mati
Rabu, 05 Sep 2007 05:57 WIB
Jakarta - Setelah Liga Inggris berlangsung sebulan, harapan mayoritas penggemar sepakbola untuk bisa kembali menonton gratis siaran langsung Liga Inggris tidak terwujud. Sebagian ada yang pasrah, meski tak rela.Puluhan tahun orang Indonesia menikmati siaran langsung olahraga secara gratis. Tidak hanya sepakbola, tetapi berbagai cabang olahraga lainnya juga.Perubahan yang terjadi tahun ini yaitu eksklusivitas siaran langsung Liga Inggris oleh stasiun televisi berbayar Astro, membuat mayoritas penggemar sepakbola geram.Wajar, sepakbola yang tadinya merupakan bahasan yang dimengerti seluruh lapisan masyarakat, kini menjadi terbatas. Untuk bisa "ikutan bicara", ada harga yang harus dibayar yakni Rp 200 ribu per bulan sebagai biaya berlangganan ESPN dan Star Sport via Astro.Bagi "si kaya", hal itu tidak akan masalah. Demikian juga "si medioker", yang akan bela-belain bayar meski sambil menggerutu karena terlanjur "menggilai bola".Bagaimana mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa? Tentu hanya bisa pasrah.Ada beberapa komunitas yang masuk dalam kelompok ini. Pelajar dan mahasiswa yang tak bekerja misalnya. Dengan masih menggantungkan hidup dari orangtua, tidak banyak yang bisa dilakukan.Saat nongkrong di waktu senggang, tak ada cerita soal bagaimana Wayne Rooney cedera, atau sensasi Sven Goran Eriksson saat membawa Manchester City menekuk Manchester United, juga kehebatan Aston Villa menekuk Chelsea. Ada sesuatu yang hilang, yang tidak seperti dulu lagi."Mau cerita, garing. Taunya hanya menang-kalah. Nggak bisa cerita bagaimana mainnya. Ngga ngelihat gol-golnya. Anak-anak di kampus pun dah malas cerita bola," ujar Ucok, mahasiswa asal Riau yang tinggal di kos-kosan di Depok.Demikian juga pekerja berpenghasilan pas-pasan. Suami yang istrinya keberatan harus mengeluarkan biaya bulanan tambahan untuk berlangganan Astro, hanya untuk ditongkrongi Sabtu atau Minggu malam."Nggak mungkin dong harus berantem sama istri untuk langganan Astro?" demikian penuturan Ipung, ayah beranak satu yang juga mengontrak rumah di Depok.Bagi mereka yang beraktivitas malam di luar rumah pun terkena imbas. Tadinya cukup mampir di warung atau bertamu di rumah teman yang punya televisi, kini tidak lagi. Mana ada warung yang pakai Astro?Abang becak, pedagang bakso atau mi ayam, supir dan yang senasib lainnya pun, sekarang hanya bisa tersenyum kecut kalau diajak ngobrol soal Liga Inggris.Mereka adalah orang-orang yang kecewa, hanya bisa pasrah meski sebenarnya tak rela.Redaksi detiksport hingga hari ini masih menerima email yang mengungkapkan kekecewaan atas kondisi ini. Di tengah kepasrahannya, ada usaha untuk menghibur diri. "Tak nonton Liga Inggris, toh tak mati." Anda punya pendapat lain? Silakan kirim email ke redaksi@staff.detik.com. (lom/din)











































