Kolom
Premier League: Dipuja dan Dicerca
Kamis, 06 Sep 2007 09:40 WIB
London - "Seberapa banyak uang mau kita kumpulkan? Seberapa yang kita perlu?" Ini bukan kalimat tanya yang dilontarkan seorang cerdik pandai ataupun bijak bestari. Ini pertanyaan -- lebih tepatnya pernyataan -- yang dilontarkan oleh Ole Gunnar Solksjaer, pemain Manchester United yang baru-baru ini mengundurkan diri.Sekian tahun yang lalu ia menjawab pertanyaan para wartawan mengenai keputusannya bertahan di Manchester United ketimbang pindah ke klub lain yang menawarkan gaji berlipat-lipat. Bagi Solksjaer persoalannya adalah keseimbangan prioritas. Ia meraih kesuksesan yang dirasa cukup -- dengan meraih semua piala utama yang tersedia --, berada di klub yang ia anggap menaungi, baik dari segi sosial maupun finansial. Apalagi yang mau dikejar?Tulisan ini bukan mau membahas soal Solksjaer ini tetapi mengesktrapolasikan persoalan keseimbangan prioritas yang dikedepankannya untuk melihat persoalan yang menimpa tim nasional Inggris, tentang keseimbangan prioritas liga utama Inggris dan tim nasional Inggris. Sementara Premier League terus mendunia karena mutu di atas rata-rata, timnas Inggris semakin terseok-seok. Perkembangan ini dikhawatirkan oleh para pakar sepakbola Inggris maupun pengurus FA. Mereka ini menunjuk ketamakan Premier League sebagai salah satu sebab utamanya.Seperti diketahui banyak orang, Premier League di atas segalanya adalah business venture, kegiatan bisnis. Kebetulan saja memanfaatkan sepakbola, dengan segala fanatisme penggemarnya dan karenanya berati pasar, sebagai mediumnya.Sebagai sebuah kegiatan bisnis tentu saja kemudian pertimbangan-pertimbangan kebijakannya berorientasi pada persoalan mengeruk untung. Sekali lagi, prioritasnya adalah mengeruk keuntungan.Adalah raja media Rupert Murdoch yng mempunyai pikiran jenial untuk membentuk liga utama ini. Kompetisi sepakbola Inggris, dengan merangkul dukungan klub-klub besar Inggris, direkonstruksi. Di puncak kompetisi disebutlah liga utama Premier League, menggantikan divisi 1, dengan berisi klub-klub besar Inggris.Klub-klub ini bersedia karena iming-iming uang hak siar televisi lewat jaringan televisi Murdoch itu. Dengan merekonstruksi kompetisi sepakbola Inggris, Murdoch memegang hak monopli penyiarannya.Murdoch yakin seyakin-yakinnya, bahwa gaya sepakbola Inggris yang memang atraktif itu bisa dijual ke seluruh penjuru dunia. Ia tidak salah. Apalagi setelah sepakbola Inggris ini dikemas sebagai tontonan yang menarik. Berpuluh kamera pun dipasang di setiap sudut lapangan agar tidak ada satu gerak-gerik pemain yang terlewat.Murdoch semakin mendapat angin setelah badan sepakbola Eropa, UEFA, tidak lagi membatasi jumlah pemain asing yang boleh diturunkan kelapangan. Kecuali kalau pemain asing itu berasal dari negara non-Uni Eropa, mereka tetap dibatasi tiga orang. Misal dari Amerika Latin, Afrika atau bahkan Asia.Klub-klub Inggris yang semakin kaya, karena di samping uang televisi, juga bisa memperbesar basis penggemarnya ke seluruh dunia, yang berarti pasar merchandise dan berarti uang, leluasa membeli pemain-pemain terbaik dunia. Racikan pemain terbaik dunia dan gaya bermain Inggris yang sangat cepat dan bertenaga ternyata merupakan formula yang tepat untuk sebuah tontonan.Akhirnya seperti lingkaran setan. Semakin banyak dunia mengikuti sepakbola Inggris, semakin banyak uang masuk jaringan bisnis Murdoch, semakin banyak uang masuk ke Premier League, semakin banyak pemain dunia berlomba untuk bisa ke bermain di Inggris, semakin menarik sepakbola Inggris, dan kembali semakin dunia terpaku mengikuti Liga Inggris.Masih ada tambahan masukan uang lagi. Potensi bisnis sepakbola Inggris ini membuat ngiler orang-orang kaya dunia. Mereka saling berlomba untuk juga dapat bagian dari potensi ini. Tercatat lebih dari sepertiga Premier League sudah bukan lagi milik orang Inggris. Di tengah hingar bingar semua ini yang celaka adalah pemain-pemain muda Inggris. Mereka harus bersaing dengan pemain-pemain terbaik dunia. Kesempatan pemain-pemain muda untuk mengasah kemampuan menjadi terbatas. Karena setiap posisi sudah diisi pemain asing. Pemain muda Inggris menjadi sulit matang dan tersingkir.Dari segi bisnis juga lebih mudah untuk membeli pemain yang sudah jadi. Tidak perlu susah-susah berinvestasi tenaga, waktu, dan uang untuk sebuah potensi yang belum tentu jadi. Apalagi tuntutan untuk sukses secepatnya bagi klub-klub Premier League sangat tinggi. Agar tidak terdepak dari divisi utama. Karena perbedaan uang yang diterima dari hak siar televisi antara anggota Premier League dan bukan seperti bumi dengan langit.Lebih celaka lagi bagi para pemain muda Inggris, bahkan untuk sekadar bisa menjadi permain akademi sebuah klub pun mereka sekarang sudah harus bersaingdengan pemain muda asing dari seluruh dunia. Karena peraturan di Inggris, dan juga Eropa, memang memperbolehkan akademi sepakbola satu klub mendidik pemain muda asing.Wajarlah kalau jumlah pemain Inggris yang menjadi pemain utama di Premier League turun drastis. Ketika dimulai 15 tahun lalu ada 184 pemain, tetapi kini turun menjadi 81.Adminstrator Premier League mungkin tidak mengambil pusing dengan masalah ini, yang penting bisnis lancar, pundi-pundi semakin besar, yang lain urusan belakangan. Pokoknya setiap kesempatan untuk semakin memperbanyak kekayaan tersedia, maka langit adalah batasnya.Yang pusing adalah FA. Perlu diketahui bahwa FA ini tidak berhak turut campur dalam urusan penyelenggaraan Premier League. Mereka lebih mengurusi persoalan tim nasional Inggris. Tanpa pasokan pemain bermutu yang cukup untuk tim nasional jelas mereka kelimpungan ketika harus membawa Inggris berkompetisi di tingkat internasional.Kalau untuk lolos babak kualifikasi Piala Eropa saja sekarang Inggris terseok-seok, ya bagaimana lagi? Pemain yang berkualitas memang terbatas. FA hanya bisa berharap administrator Premier League tersentuh kata-kata Solksjaer di atas: "Seberapa banyak uang mau kita kumpulkan? Seberapa yang kita perlu?" Untuk kemudian ikut memikirkan nasib persepakbolaan Inggris, bukan sekadar mengeduk keuntungan. (lza/a2s)











































