'Musuh' Jose Hanya Roman

'Musuh' Jose Hanya Roman

- Sepakbola
Kamis, 20 Sep 2007 11:33 WIB
Musuh Jose Hanya Roman
Jakarta - Tak ada yang berani melawan sorot mata Jose Mourinho jika sedang marah di ruang ganti pemain. Ia juga punya 1.001 jurus buat menghadapi pers. Tampaknya hanya Roman Abramovich yang tak sanggup ditentang Mourinho.Eidur Gudjohsen, sewaktu baru meninggalkan Chelsea dan bergabung dengan Barcelona, mengungkapkan superioritas Mourinho terhadap pasukannya. Di dressing room setiap ucapannya didengarkan. Kalau sedang marah, teriakannya bisa membuat pria sebesar Didier Drogba pun menunduk."Kami para pemain takut pada dia," begitu cetus Gudjohnsen, salah satu penyerang yang cukup disukai Mourinho tapi tidak dilarang pindah karena kesempatan buat dia memang kompetitif.Di kalangan pers, rasa-rasanya belum pernah ada seorang manajer di Liga Inggris yang selalu dinanti-nantikan ucapan-ucapannya. Hampir selalu ada puisi dalam kata-kata pujiannya, metafora elok bahkan satir dalam kecaman-kecamannya. Ekspresi mukanya yang menyebalkan, atau tawa lepas dari pria tampan ini, adalah mangsa empuk para juru foto dan kamera.Mourinho adalah bintang di dalam dan luar lapangan. Ia berprestasi, juga selebriti, sampai-sampai dengan pede-nya memilih George Clooney sebagai aktor paling pas jika ada produser yang mau memfilmkan dirinya.Tapi laki-laki Portugal ini tetap saja orang nomor dua di kerajaan Stamford Bridge. Rajanya berasal dari Rusia bernama Roman Abramovich. Mourinho boleh punya otak encer, tapi Abramovich punya sungai uang.Kenyataannya, hanya Abramovich yang bisa berbuat apa saja terhadap Mourinho -- tentu saja, dia adalah bos besar. Jika sebal melihat permainan Frank Lampard dkk di lapangan, dia bisa hengkang semaunya dari tempat duduk VIP-nya di stadion -- dan membiarkan pers menangkap itu sebagai sebuah ketidaksukaan yang benar-benar.Jika harapan kemenangan tak terkabul, Abramovich bisa saja tidak mendatangi ruang pemain untuk berbasa-basi menghibur pasukannya. Mungkin ia berpikir, itu adalah tugas manajer dan psikolog tim.Tapi yang paling seru adalah jika Abramovich sedang tidak mendukung Mourinho. Faktanya, sejak musim lalu ia tidak seboros dua musim pertama dalam menghambur-hamburkan uang untuk melakukan perekrutan.Celakanya, Mourinho juga seorang pengeluh. Jika timnya diserang krisis cedera pemain, solusi dia hanyalah membeli pemain baru. Jika Abramovich tidak mengabulkannya, ia suka membuat sindiran atas keadaan tersebut. Padahal, seperti dikenal pula dalam Inter Milan, Barcelona, atau Real Madrid, Chelsea semestinya selalu punya dua kesebelasan yang tangguh dalam setiap musim.Abramovich pun, kendati tak banyak bicara, sadar dirinya adalah orang nomor satu di Chelsea, bukan Mourinho. Jika manajernya itu tidak bekerja sesuai keinginannya, ia bisa melakukan apa saja. Ia pernah men-cuekin Mourinho, tidak memberinya anggaran belanja yang banyak, tapi juga pernah bersalaman dan pelukan di depan publik, sebagai tanda bahwa mereka baik-baik saja (terutama jika Chelsea masih menang dan menang). Tapi sejak musim lalu yang lebih sering terekspos adalah mereka tidak akur lagi."Kami tidak memiliki hubungan-hubungan pertemanan, tapi hubungan kami cukup hangat," begitu Abramovich pernah menggambarkan koneksitas personelnya dengan Mourinho."Secara umum kami tentu saja saling bicara. Saya memperlakukan dia dengan respek tinggi, dan itu tidak hanya karena capaiannya di dunia sepakbola."Abramovich berulang kali mengatakan dirinya tidak ikut campur dalam penentuan skuad. "Saya tidak bilang, saya tidak sepenuhnya terlibat dalam seleksi tim, tapi peran saya secara signifikan lebih rendah daripada manajer. Anda tak bisa membandingkannya," demikian ia pernah berkata.Tapi semua orang seperti sudah tahu bahwa banyak pemain datang ke London karena Abramovich sudah mengarahkan telunjuknya pada pemain tersebut. Kebetulan, pemain-pemain itu tidak nyetel dengan ekspektasi Mourinho. Sebut saja Alexei Smertin, Jiri Jarosik, sampai yang paling sensasional: Andriy Shevchenko. "Saya bukan orang yang mengendalikan semuanya, mengatur semuanya di sini. Saya hanya seorang manajer," begitu Mourinho pernah menyadari keberadaan dirinya sebagai orang bayaran Abramovich.Berikutnya, ia mendapat banyak tekanan interen (baca: Abramovich) karena musim lalu gagal mempertahankan titel Premiership dan tak mampu memenangi Liga Champions. Penampilan The Blues di awal musim inipun jauh dari impresif, termasuk ditahan tim "anak bawang" Rosenborg Trondheim di penyisihan Liga Champions kemarin.Mungkin wajar jika Mourinho akan menghentikan apa saja yang menghalangi Chelsea meraih prestasi setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya. Mourinho jelas bukan penghalang, bahkan sebaliknya, ia adalah pelatih tersukses dalam sejarah Chelsea. Tapi untuk manajer yang digajinya lima juta poundsterling (Rp 92 miliar) per tahun, untuk tim yang dibangunnya dengan ongkos lebih dari 200 juta pounds (Rp 3,7 triliun), ia tentu mau Chelsea selalu berjalan mulus, tidak tersendat-sendat seperti tampaknya sekarang. (a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads