Opera Sabun Berjudul Chelsea

Opera Sabun Berjudul Chelsea

- Sepakbola
Kamis, 20 Sep 2007 22:10 WIB
Opera Sabun Berjudul Chelsea
London - Chelsea, semenjak dibeli oleh Roman Abramovich dan diperparah oleh masuknya Jose Mourinho sebagai pelatih, adalah sebuah klub dengan kehidupan layaknya sirkus. Tidak pernah ada kata henti untuk mengupas pergerakan kehidupan di klub ini, opera sabun dalam bentuk yang paling riil. Entah itu mengenai kehidupan flamboyan tetapi misterius ala Abramovich, pribadi Mourinho yang enigmatik, pemainnya yang seperti kebingungan karena bermandikan uang berlebih, tuduhan kongkalingkong permafiaan, dan banyak lagi.Tentu diatas semua itu hubungan antara Abramovich dan Mourinho muncul drama utamanya. Hubungan dua ego yang sama besarnya, yang berebut menjadi nomer satu di klub. Walau hasil akhirnya tentu bisa ditebak.Menikmati opera sabun di Chelsea membuat lupa para penggemar sepakbola Inggris bahwa Chelsea sebenarnya memainkan sepakbola yang lumayan menjemukan. Permainan robotik yang mengandalkan kekakuan strategi dan menanggalkan ketrampilan individu, mengharamkan khayalan, menomorduakan keindahan. Satu kajian yang sebenarnya berulangkali disampaikan oleh berbagai pakar sepakbola Eropa daratan, dan --walaupun tidak terlalu kuat-- dari Inggris sendiri.Tetapi dengan dua kali juara liga utama, dua kali juara piala liga, dan sekali Piala FA, hanya dalam waktu tiga tahun, siapa yang akan peduli.Bagi pendukung Chelsea, Jose Mourinho adalah sang juru penyelamat. Titik. Menjemukan atau tidak, ia telah membawa Chelsea memenangkan kompetisi liga untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir. Dua kali berturut-turut pula. Mereka bisa datang ke Stamford Bridge dengan kepala tegak dan senyum lebar.Para pengritik Chelsea pun bungkam seribu basa. Sepakbola efektif terbukti sukses. Mourinho adalah dewa sepakbola yang tak pernah salah. Dan ketika ia mengatakan kritik terhadapnya adalah sebuah kecemburuan dan iri dengki, ia bisa membuka laci mejanya yang penuh medali untuk membuktikannya. Bukan hanya dari masanya di Chelsea, tetapi juga di Porto dengan piala Champions, UEFA, dan kompetisi liga Portugal.Tetapi kritik para pakar ataupun penggemar sepakbola itu rupanya menjadi semai cerita selanjutnya. Menentukan bentuk akhir dari pertarungan antara Abramovich dan Mourinho. Kritik itu rupanya tertanam benar dibenak Abramovich.Abramovich mempunyai khayalan Chelsea sebagai sebuah klub yang memenangkan banyak piala, mendominasi liga domestik dan Eropa, dengan permainan yang memesona. Ia selalu melirik iri ke tetangganya di London, Arsenal, bahkan juga diam-diam Tottenham. Ia juga tak bisa menyembunyikan gairahnya setiap kali berbicara tentang Manchester United. Pesona permainan klub-klub tadi dianggapnya jauh melampui Chelsea.Maka dimanjakannya Mourinho dengan uang belanja berlebih. Bahkan Abramovich sendiri kemudian turut belanja pemain, yang dibayangkannya akan membuat Chelsea bermain indah menarik. Michael Ballack dan Andriy Shevchenko, menjadi rahasia umum pembelian oleh Abramovich bukannya Mourinho.Sama dengan para pakar bola yang mengritik Mourinho, Abramovich tak bisa banyak bersuara ketika piala demi piala hinggap ke almari pamer di Stamford Bridge. Tetapi ketika kompetisi yang lewat secara menyakitkan Chelsea terpaksa melepaskan gelar juara ke Manchester United, Abramovich sangat terpukul.Abramovich merasa gelontoran uangnya tidak berguna berhadapan dengan Manchester United dan yang lebih menyakitkan Manchester United memainkan sepakbola menyerang yang imajinatif dan atraktif, yang tak mampu dimainkan Chelsea ketika menjadi juara. Benar Chelsea masih memenangkan Piala FA dan bahkan mengalahkan Manchester United difinal, tetapi nasib sepertinya sudah tersuratkan untuk Mourinho.Bisa saja sebenarnya Abramovich memecat Mourinho saat itu juga. Namun sebagai seorang pengusaha yang terbiasa mengambil keputusan penting yang menentukan kesuksesan usahanya, ia tahu benar kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu. Menunggu lawan pada saat posisi paling lemah agar tidak menimbulkan terlalu banyak perlawanan.Kesempatan datang setelah diawal musim kompetisi liga utama Chelsea seret, dua pertandingan terakhir mereka berakhir kalah dan seri. Membuka kompetisi di Piala Champions dikandang sendiri, mereka juga hanya bisa seri melawan klub yang lemah.Ruang gerak Mourinho semakin sempit. Apalagi ketika sempat muncul berita ia bentrok dengan kapten klub, John Terry. Layaknya opera sabun betulan, Abramovich mengambil langkah pamungkasnya.Persisnya apa langkah Abramovich tidak ada yang tahu. Tapi, dipecat atau tidak, yang jelas Mourinho sekarang tak lagi bersama Chelsea. Dan babak baru opera sabun di Chelsea pun bisa dimulai lagi dengan cerita yang berbeda. Tinggal kita tunggu episodenya. (lza/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads