Chelsea Mereda, City Berkilau
Senin, 08 Okt 2007 10:11 WIB
Jakarta - Avram Grant sementara berhasil meredam kesibukan orang mengutak-atik posisinya. Sementara itu Sven Goran Eriksson membuat fans Manchester City seperti terbelalak pada potensi timnya itu.Tadi malam, Minggu (7/10/2007), Grant berhasil memberikan kemenangan pertama buat Chelsea di kancah Liga Inggris. Walaupun skornya minimum, 1-0, atas tim papan bawah pula Bolton Wanderers, namun itu sudah cukup untuk mendiamkan dulu para pengkritiknya. Sejak ditunjuk sebagai pengganti Jose Mourinho, manajer asal Israel itu masih saja dipertanyakan kualitasnya -- popularitasnya saja njomplang dengan sosok yang ia gantikan. Kalah dari Manchester United dan seri melawan Fulham tentu saja tidak membantu rapor awalnya di Stamford Bridge. Kemenangan telak 4-0 atas Hull City pun tidak dianggap istimewa karena berlaku di ajang Piala Carling.Baru pada pertengahan minggu lalu Grant memberi kesan positif. Diperkirakan kalah, Chelsea malah mempecundangi Valencia 2-1 di Liga Champions di Mestalla pula. Ditambah kemenangan atas Bolton semalam, boleh jadi Grant tidak akan diekspos media massa lagi -- sampai Chelsea mengalami hasil-hasil yang tidak positif kembali."Tidak gampang melawan Bolton. Tapi yang penting adalah tiga poin. Ini sangat baik buat tim setelah kami tidak mengawali musim ini dengan sangat baik," demikian ujarnya.Kebalikan dari Grant adalah Eriksson. Pria Swedia yang dihancurkan karirnya sebagai pelatih timnas Inggris oleh pers setempat itu membuktikan dirinya punya kualitas sebagai pekerja sepakbola -- bukan sekadar playboy paruh baya. Memang masih terlalu dini menyebut Manchester City sebagai penantang The Big Four, tapi klub ini dipastikan mulai lebih diperhitungkan. Fans The Citizens sendiri mungkin tak menyangka akan mendapatkan kenyataan ini, bahwa Didi Hamann dkk saat ini bisa berada di papan atas klasemen sementara.Paling tidak, City of Manchester Stadium sedang menjelma sebagai stadion "angker" buat tim-tim lawan. Enam kemenangan yang telah dicapai City semuanya diraup di kandangnya ini.Menyangkut tim lain, Arsenal masih menikmati perjalanannya yang memukau. Manchester United juga makin stabil meraih kemenangan. Bedanya, baru dua hari lalu mereka menghasilkan lebih dari dua gol dalam satu partai, ketika melibas Wigan 4-0 di Old Trafford.Yang masih "menggemaskan" adalah Liverpool. Setelah kalah 0-1 dari Marseille di Liga Champions, tadi malam pun The Reds nyaris tumbang lagi di tempat yang sama, yang tidak seharusnya mereka kalah: Anfield.Unggul lebih dulu lewat gol Andriy Voronin, belakangan Liverpool bersyukur tidak sampai kalah. Jika Fernando Torres tidak mencetak gol di masa injury time, boleh jadi para Liverpudlians akan meratapi kekalahan tersebut. Skor akhir melawan Tottenham Hotspur adalah 2-2.Benitez memang jauh dari wacana "digoyang", tapi dia perlu secepatnya mengubah tradisi inkonsistensi Liverpool. Sebaliknya, Martin Jol belum jauh dari "kursi goyang" itu. Beruntunglah dia, Spurs bermain cukup baik dan hampir menang. Tapi lain kali direksi klub London itu barangkali lebih mementingkan tiga poin. Ketimbang main cantik tapi tak menang, lebih baik main buruk asalkan poin bertambah banyak. (a2s/krs)











































