Kolom
Celakanya Manajer Sepakbola
Jumat, 26 Okt 2007 19:28 WIB
London - Manajer sepakbola adalah pekerjaan paling celaka dalam industri persepakbolaan. Hampir susah membayangkan adanya unsur kebahagiaan sebagai manajer di dunia yang satu ini.Kalau tim sedang terseok-seok, siapa yang menjadi sasaran kritikan, tekanan, hinaan, sumpah serapah: manajer. Siapa yang pertama kali akan menjadi korban pemecatan? Tidaklah mungkin memecat suporter atau dewan direktur atau pemain!Banyak yang mengatakan bahwa menjadi manajer sepakbola adalah pekerjaan paling stres di dunia. Tak banyak yang membantah. Lha, tekanan terhadap mereka bukan bersifat mingguan, tetapi harian.Manajer sepakbola harus setiap hari dipusingkan dengan tujuan jangka pendek: melatih dan mempersiapkan tim untuk memenangi pertandingan berikutnya. Tidur tidak nyaman karena harus merancang program jangka panjang, entah itu memenangi piala tertentu, memantapkan posisi di klasemen, membina tim masa depan, menjaring pemain berbakat, sampai transfer pemain. Tidur mimpi bola, bangun didera bola.Bahkan ketika tim bermain bagus ataupun memenangi banyak piala, Anda pikir segalanya lalu indah? Bagi para manajer ini kejayaan hanya berlangsung selama Anda mengangkat piala selama beberapa detik. Sesudahnya, Anda sudah harus kembali tersedot rutinitas untuk menjaga agar kejayaan itu tak lepas begitu saja. Tidak ada kata selesai.Apakah Anda pikir dalam tim yang sukses hubungan antara manajer dan pemain selalu bagus? Hanya mimpi. Satu dua mungkin, tetapi tidak seluruhnya. Semua manajer top mengaku, yang penting bukan bagaimana hubungan pribadi itu bagus, tetapi fungsional atau tidak.Kalau pemain dianggap sudah tidak lagi in tune dengan bangunan keseluruhan tim, ya apa boleh buat, manajer harus membuangnya. Bayangkan, pertarungan ego yang terjadi di dalamnya. Apalagi kalau sekumpulan pemain itu adalah pemain-pemain bintang.Lebih celaka lagi, pernahkan Anda mendengar gaji manajer lebih tinggi dari pemain yang dibinanya? Gaji pemain biasanya berlipat-lipat kali lebih tinggi dari orang yang menjadi otak permainan tim. Mereka juga yang menjadi pujaan penonton, bukan manajer. Ini seperti jenderal membawahi prajurit yang tidak perlu lagi harus bertempur untuk hidup. Anda keras mereka ngambek, Anda lunak mereka ngelunjak. Dibutuhkan kemampuan manajerial di atas rata-rata untuk mendapatkan keseimbangan. Belum lagi hubungan dengan dewan direktur atau pemilik klub. Tidak perlu harus ada cerita terlalu banyak mengenai ini, tetapi semua orang tahu bahwa tarik menarik antara manajer dengan pemilik klub seperti derita tanpa akhir. Dan setiap kali ada pergulatan kekuasaan, tidak perlu diragukan lagi siapa yang akan kalah.Kalau demikian celakanya posisi manajer sepakbola ini, mengapa masih saja ada mereka yang dengan senang hati bahkan berusaha keras untuk menjadi manajer sepakbola? Ada yang mengatakan manajer sepakbola adalah sekumpulan ras tersendiri: ras celaka.Foto: Martin Jol. Potret manajer top terakhir yang mengalami pemecatan. (BBC) (lza/a2s)











































