Kolom
Pemain Asing dan Realitas Komersial Global
Senin, 12 Nov 2007 09:22 WIB
London - Negara-negara Eropa Barat anggota Uni Eropa sedang menghadapi masalah dengan masuknya imigran dari anggota Uni Eropa dari Eropa Timur. Sejak Undang Undang Uni Eropa tidak lagi membatasi pergerakan warga Uni Eropa untuk saling lintas batas, menetap dan bekerja di mana mereka suka, konon ratusan ribu warga Eropa Timur telah menyeberang ke Eropa Barat. Undang Undang itu merupakan reaksi dari realitas komersial global di mana batas negara diruntuhkan agar buruh bisa digerakkan dengan mobilitas tinggi dari satu tempat ketempat lain seperti halnya modal.Maka bukan hanya dari Eropa Timur gelombang imigran ini datang. Afrika dan Asia turut pula menyumbang. Afrika lebih banyak tentunya karena kedekatan geografis.Banyaknya imigran yang masuk memang diakui menambah beban infrastruktur layanan masyarakat yang ada, apakah itu pendidikan, kesehatan, keamanan, transportasi, hingga kemasalah kesejahteraan. Seringkali negara penerima kecipuhan untuk menjaga agar layanan masyarakat mereka bisa memenuhi standar. Maklum saja, jumlah penduduk menaik dengan sangat terasa. Terengah-engahnya kesiapan layanan masyarakat ini menjadi salah satu sumber ketidakpuasan warga penerima yang sebelumnya -- katakanlah -- sudah nyaman. Keluhan lain adalah banyaknya lahan pekerjaan yang diambil oleh tenaga imigran ini. (Ini bisa diperdebatkan karena para imigran lebih banyak mengambil lahan pekerjaan kelas bawah yang biasanya memang sudah enggan dilakukan oleh warga setempat). Apa boleh buat, para imigran ini rata-rata memang lebih mau keras bekerja, mau dibayar lebih rendah, dan tidak banyak menuntut.Ujung dari kesemua ini warga setempat -- sebut saja warga asli-pribumi kalau memang bisa dikatakan demikian -- merasa terancam.Mungkin pembaca berpikir saya sedang akan menulis tentang kajian sosial Eropa Barat menyangkut gelombang masuknya para imigran ke Eropa Barat. Tapi bukan itu maksud saya.Apa yang ingin saya kemukakan sebenarnya pemberian konteks kepada pernyataan Presiden FIFA Sepp Blater untuk membatasi jumlah pemain asing yang bisa turun dalam satu pertandingan antarklub di Eropa. Harus dipahami bahwa pernyataan Blatter tidak keluar dari ruang vakum. Banyaknya pemain asing menurut Blatter telah menyebabkan bakat-bakat lokal sulit muncul. Klub-klub Eropa terlalu sarat dengan pemain-pemain asing yang lebih murah harganya. Kalau pemain lokal mau muncul maka ia harus mempunyai bakat yang benar-benar luar biasa untuk bersaing. Menurut Blatter sepakbola nasional kemudian mengalami dampak negatif dari situasi yang seperti ini. Ia mengambil contoh Inggris yang kini terseok-seok untuk sekadar bisa lolos kualifikasi kejuaraan Eropa. Padahal Liga Inggris adalah yang paling kompetitif dan atraktif di Eropa. Tetapi kalau ada klub seperti Chelsea dan Arsenal, misalnya, yang berulangkali menurunkan kesebelasan tanpa satu pemain Inggris pun, bahkan tidak juga dari Inggris Raya, bagaimana mungkin ini baik untuk tim nasional. Begitu argumen Blatter.Cobalah tarik garis paralel dengan mereka yang mengeluhkan derasnya kaum imigran yang menyeberang ke Eropa Barat. Mirip bukan? Derasnya pemain asing ini berkonsekuensi terhadap akademi masing-masing klub, yang di samping mempunyai tujuan memasok pemain masa depan klub juga memandu bakat yang ada di sekeliling mereka. Semacam layanan sosial terhadap tempat mereka berada. Kembali satu garis paralel bisa ditarik bukan?Tentu saja ini bukan berarti sikap Blatter lalu benar. Ada juga sudut pandang lain yang bisa dikemukakan. Paralel dengan mengapa Uni Eropa memunculkan undang undang kebebasan bergerak dan keputusan untuk menghilangkan batas negara.Seperti berulangkali disinggung, sepakbola tidak lagi semata kegiatan olahraga, tetapi sebuah kegiatan komersial yang luar biasa menguntungkan. Untuk selalu bisa dipasarkan maka sepakbola membutuhkan pertandingan-pertandingan yang selalu menarik untuk diikuti. Untuk bisa menampilkan pertandingan-pertandingan yang menarik maka dibutuhkan pemain-pemain terhebat yang ada, bukan dari mana pemain itu berasal. Darimana pemain itu berasal menjadi tidak relevan dalam konteks ini.Pembatasan pemain asing dengan sudut pandang ini menjadi tidak masuk akal, berlawanan dengan realitas komersial global. Bukankah pemain adalah buruh (modal) yang dalam realitas komersial global seharusnya bisa dipindah-pindahkan dengan cepat agar pasar selalu bisa terpuaskan? Bukankah itu yang penting: pasar terpuaskan karena akan selalu bersedia membeli produk. Agar dunia sebagai pasar selalu mau menonton pertandingan yang menarik lewat televisi.Persoalan nasionalisme adalah persoalan kemudian. Mereka yang menentang Blatter menyebut mereka tidak membatasi bakat untuk muncul. Seorang pemain berbakat akan muncul terlepas apakah ada pembatasan ataupun tidak. Mereka ini mengingatkan Blatter pada tim Italia yang memenangi Piala Dunia 2006. Anggota tim Italia adalah bakat yang muncul justru ketika puncak ramainya pemain asing memenuhi klub-klub Italia ditahun 1990-an. Olahraga untuk olahraga, sepakbola untuk sepakbola? Saya memang sudah lama tidak percaya pernyataan itu.Foto: Chelsea. Sebuah klub kosmopolitan dengan pemain asing yang bertaburan. (AFP/Andrew Yates) (lza/a2s)











































