Minggu (6/1) malam, Simon Lamport berada di Stadion Kenilworth Road untuk menyaksikan pertandingan babak III Piala FA antara Luton Town melawan Liverpool. Sebagai warga kota Luton, Lamport pantas bangga karena Luton bisa menahan Liverpool 1-1.
Lamport yang duduk di bangku eksekutif bersama putranya malam itu, kemudian menyaksikan sebuah peristiwa memalukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun situasi yang menyenangkan itu segera berubah menjadi kejadian tak mengenakkan. "Beberapa fans mengumpat Carragher. Bahasanya menyakitkan dan bahkan mereka menghina ibu Carragher," imbuh Lamports lagi.
Carragher pun bereaksi. Ia terlihat beradu mulut dengan delapan orang fans Luton itu. Sejumlah pihak bahkan menuturkan bahwa Carra --sapaan Carragher-- berkelahi. Benda-benda berhamburan ke arah Carra. Bahkan ada kemasan bir melayang.
Beruntung bagi Carra, kasus ini berhenti sampai di sini. FA sudah menyatakan takkan melakukan penyelidikan. Polisi di wilayah Bedfordshire (kawasan di mana Luton berada) juga mengaku tidak menerima laporan seputar peristiwa itu.
Meskipun menjadi korban, sampai terlibat keributan dengan penonton adalah tabu bagi seorang pemain di Liga Inggris.
Carra tentu ingat kasus tendangan kungfu Eric Cantona (Manchester United) kepada seorang fans Crystal Palace pada tahun 1995. Cantona akhirnya dihukum larangan bermain selama 10 bulan, plus kerja sosial 120 jam.
Liverpool pun memberi dukungan pada Carra. "Dia jadi korban hinaan kotor," ungkap seorang juru bicara The Reds.
Bagaimanapun, Liverpool tetap menyesalkan tindakan pria 29 tahun itu. "Dia mungkin bisa bertindak lebih bijaksana dengan tidak terlibat. Tapi di sana ada sesuatu yang tidak bisa ditoleransi manusia lagi," tegas jubir itu.Β (arp/a2s)











































