sepakbola
Kolom

Siapa Panggil 'King Kev' Kembali?

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video
Kolom

Siapa Panggil 'King Kev' Kembali?


- detikSepakbola

London - "Terima kasih Tuhan, 'King Kev' telah kembali. Dewan direksi akhirnya mendengar permintaan kami," tulis seorang suporter Newcastle United di sebuah chatroom sepakbola di Inggris.

Tentu kita tidak tahu apakah benar dewan direksi The Magpies memang menunjuk Kevin Keegan sebagai manajer berdasar permintaan (tekanan) fans mereka. Yang pasti Keegan memang mencintai klub itu dan mempunyai hubungan spesial dengan pendukung klub di Inggris Utara itu. Kalaupun memang benar ada tekanan dari suporter, hal ini tidaklah mengherankan.

Newcastle merupakan anomali kota besar di Inggris. Kota ini hanya mempunyai satu klub sepakbola saja: Newcastle United. Satu berkah sekaligus kutukan.

Berkah
karena loyalitas fans sepakbola kota itu hanya tertuju kepada mereka. Tidak perlu berbagi. Alhasil basis pendukungnya begitu kuat dan besar. Kutukan karena besarnya dukungan ternyata berbanding lurus dengan tekanan bagi klub itu untuk meraih sukses dengan derajat toleransi kegagalan yang amat kecil. Runyamnya, klub ini selalu menemui kegagalan total selama puluhan tahun.

Dan yang sangat tidak mengenakkan untuk pengurus klub, para pendukung loyal klub ini sadar akan kekuatan suara mereka dan kemudian merasa berhak untuk turut campur dalam menjalankan kehidupan klub.

Newcastle United adalah satu-satunya klub di Inggris yang pendukungnya paling sering menggelar protes terbuka terhadap kebijakan klub. Newcastle United pula satu-satunya klub yang pengurusnya paling sering tunduk pada tekanan suporternya.

Padahal menjalankan kehidupan klub adalah persoalan aristokrasi, bukan demokrasi dan bukan pula persoalan kediktatoran massa. Artinya, sekelompok orang menjalankan hajat hidup klub dengan pertanggungjawaban yang jelas, baik dari segi finansial, prestasi maupun program klub.

Tunduk pada suporter untuk persoalan menjalankan kehidupan klub adalah sebuah bunuh diri. Alih-alih meraih sukses, ketidakstabilan yang biasanya terpetik.

Logikanya sederhana saja. Untuk persoalan kesetiaan dan keinginan melihat klub sukses dalam segala segi, tak perlu diragukan para suporter akan memberikan segalanya. Tetapi kelompok ini begitu cair dan tentunya tidak bisa diikutkan dalam pembuatan kebijakan, karena tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Dewan direksi bisa dipecat, manajer bisa dipecat, tetapi suporter?

Juga suporter bila berbicara mengenai klub yang mereka dukung selalu merasa paling benar, merasa paling mengerti persoalan, merasa paling punya pertimbangan, padahal sungguh pendapat mereka biasanya sangat digelapkan oleh hasil semata: menang atau tidak ataupun juara atau tidak. Gambar besar kehidupan klub ataupun program jangka panjang sering kali mereka abaikan.

Contoh klasik adalah apa yang terjadi pada Manchester United. Dominasi mereka di Inggris dalam limabelas tahun terakhir tidak akan pernah terjadi seandainya pengurus klub tunduk pada tuntutan suporter.

Empat tahun setelah kedatangannya di MU tahun 1986, Sir Alex Ferguson tak kunjung mempersembahkan gelar juara kompetisi. Tuntutan suporter agar Ferguson mundur mendapat momentum. Tetapi direksi klub waktu itu ngotot bahwa Ferguson punya program jangka panjang yang mereka yakini akan sukses.

Selama setahun penuh adu kuat terjadi. Bukan satu dua kali Old Trafford di tinggal pendukungnya. Beruntung MU memenangkan Piala FA tahun 1990 dan kemudian Winners Cup tahun 1991. Tuntutan suporter pun mundur teratur.

Persoalan belum selesai, di tahun 1995 Ferguson merombak tim yang berhasil memenangi kompetisi liga dua tahun sebelumnya. Pemain pilar seperti Mark Hughes, Paul Ince, dan Andrey Kanchelkis dijual. Para suporter marah, menyebut Ferguson tak punya otak, dan memintanya mundur.

Yang tidak dimengerti oleh para supporter, Ferguson telah menyiapkan generasi emas. Lima pemain muda, semuanya fans Red Devils sejak kecil, kecuali satu semuanya lahir dan dibesarkan di Manchester: David Beckham, Paul Scholes, Nicky Butt dan Neville bersaudara. Dan kita tahu apa yang terjadi ketika mereka menjadi tulang punggung klub ini.

Memang berkonfrontasi melawan suporter sendiri pastilah tidak mudah. Namun nasehat bijak mengingatkan: Kualitas pemimpin tercermin ketika ia harus mengambil keputusan dari berbagai pilihan sulit dan memilihnya dengan tepat. Pengurus klub adalah kumpulan para pemimpin dan adalah mereka bukan suporter yang harus mengambil keputusan yang tepat.


(lza/a2s)











Hide Ads