Tamak (Memang) Tanpa Batas

Kolom Sepakbola

Tamak (Memang) Tanpa Batas

- Sepakbola
Senin, 18 Feb 2008 10:00 WIB
Tamak (Memang) Tanpa Batas
London - Anda tidak akan mengerti arti cukup hingga Anda mengerti apa arti berlebihan. Begitu kata pujangga Inggris ternama William Blake hampir 200 tahun silam.

Kita bisa bercanda dengan mengatakan para pengurus/penyelenggara Liga Inggris divisi utama alias Premier League sudah membaca puisi William Blake berjudul The Marriage of Heaven and Hell -- asal kutipan itu diambil. Dan usulan untuk meregang kompetisi lebih panjang dan memainkan satu pertandingan di luar Inggris adalah upaya untuk memahami apa yang disebut berlebihan, untuk kemudian mengerti apa arti cukup. Satu proses untuk menjadi lebih bijak.

Namun kita juga bisa mengartikan usulan penyelenggara Premier League itu dengan lebih sederhana, tak usah sok filosofis-puitis: mereka ini memang tamak dan serakah. Titik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Logika apalagi yang bisa dikatakan kecuali dua kata itu. Mereka mengerti, dengan adanya teknologi satelit dan televisi, Premier League adalah tontonan olahraga global paling makmur di seluruh dunia. Statistik bisnis jelas membuktikan itu.

Akan tetapi itu tidak cukup. Mereka ingin mengeksploitirnya lebih lanjut. Ingin mengeruk lebih banyak uang, sekalipun berarti menyerabut apa yang selama ini menyebabkan Premier League menjadi tontonan olahraga yang menarik. Menyerabut nyawa tontonan itu sendiri.

Liga Inggris menarik karena setiap pertandingan, tak peduli klub kecil atau besar, tak peduli stadion besar atau kecil, selalu dipenuhi oleh atmosfer yang khas. Ada passion -- bolehlah kita terjemahkan sebagai semangat --, cinta, antusiasme, dan juga kadar kebencian terhadap lawan, yang bercampur baur menjadi satu, dari penontonnya.

Passion inilah yang membentuk atmosfer yang khas itu dan kemudian menyetrum para pemain di lapangan, lalu menjadi proses reciprocal antara pemain dan penonton. Itu semua menjelma menjadi kesatuan irama tontonan yang menggairahkan; menjelma menjadi proses ritual untuk membangkitkan gairah baik untuk pemain maupun penonton.

Gairah itulah sebenarnya menu utama --ingredient dasar-- tontonan sepakbola Inggris. Vibrasi gairahlah yang sebenarnya menembus ratusan juta layar televisi di seluruh dunia dan dirasakan pemirsanya.

Para pemain top dunia selalu mengatakan atmosfer kegairahan stadion di Inggris memang khas dan tidak terkalahkan. Di negara Eropa lain tentu saja ada atmosfer semacam itu tetapi tidak merata. Tidak di setiap pertandingan. Bermain di stadion Inggris, kata pemain ini, membuat lupa akan bermain sepakbola sebagai semata sebuah pekerjaan. Ada kenikmatan dalam bekerja.

Tetapi bayangkan kalau pertandingan Liga Inggris dimainkan di luar negeri. Pertanyaan hipotetis ini setidaknya harus dijawab terlebih dahulu. Masih akan adakah atmosfer itu? Masih akan adakah gairah itu? Masihkah intensitasnya sama? Kalau jawabnya tidak, maka Premier League akan kehilangan elemen paling mendasar dari daya tarik mereka.

Lebih bijak bagi penyelenggara Premier League mendengarkan keberatan badan sepakbola Inggris FA, badan sepakbola Eropa UEFA, badan sepakbola dunia FIFA, dan terutama tentunya fans sepakbola Inggris sendiri. Kecuali tentu saja kalau uang adalah segalanya. Apa boleh buat.



Foto: Salah satu klub top Liga Inggris, Chelsea. Ide menggelar Premier League ke luar Inggris memicu banyak penolakan. (AFP)
(lza/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads