Hantu itu bernama cedera. Seorang pemain sepakbola akan selalu diikuti oleh ketakutan akan terjadinya cedera. Tidak hanya di dalam pertandingan, hantu cedera juga membayang di arena latihan.
Coba tanyakan kepada Eduardo. Striker Arsenal bernama lengkap Eduardo da Silva ini pasti tak akan menyangka bahwa pertandingan klubnya melawan Birmingham, Sabtu (23/2/2008), akan jadi salah satu hari yang paling nahas dalam karirnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi Eduardo tak sendirian. Sejarah tentang tragedi cedera yang mendera pesepakbola membentang di Britania (dan juga negara lainnya) semenjak bertahun-tahun lalu. Berikut adalah catatan yang dilansir Daily Mail.
David Busst terpaksa harus pensiun karena mengalami patah di tulang fibula dan tibia-nya. Bek Coventry itu mendapat cederanya saat bertabrakan dengan Dennis Irwin saat klubnya menghadapi Manchester United tahun 1996.
Karir yang berakhir juga harus dihadapi oleh Luc Nilis. Penyerang asal Belgia itu mengalami patah kaki di dua tempat saat bertabrakan dengan kiper Ipswich Richard Wright, September 2000.
Alf Inge Haaland juga pensiun dini akibat cedera. Saat memperkuat Manchester City dalam derby Manchester menghadapi MU, April 2001, pemain Norwegia itu ditekel oleh Roy Keane. Lutut Haaland cedera dan ia tidak bisa bermain lagi setelahnya. Haaland akhirnya gantung sepatu tahun 2003.
Djibril Cisse (Liverpool), Henrik Larsson (Glasgow Celtic), Stan Collymore (Leicester) dan Alan Smith (MU) barangkali lebih beruntung ketimbang tiga nama di atas. Lima pemain itu memang mengalami cedera parah, tapi setelahnya tetap bisa merumput lagi sesudahnya.
Cisse, Larsson dan Smith hingga saat ini masih aktif bermain. Sementara Collymore sudah menjadi pensiunan. Satu pemain lagi yang mengalami cedera parah adalah Kieron Dyer. Kaki kanan Dyer patah di dua tempat pada Agustus tahun silam dan hingga kini ia belum bermain lagi.
Sepakbola adalah drama. Dan kali ini, bagi Eduardo, drama itu adalah sesuatu yang tragis. Seisi stadion terdiam (dan mungkin jutaan orang lain melalui kotak televisi) menyaksikan tragedi itu terjadi di depan mata mereka.
Bila Albert Camus, sastrawan peraih Nobel asal Prancis itu menyaksikan drama tragis Eduardo, ia barangkali tak hanya akan mengatakan bahwa dari sepakbola ia memetik pelajaran tentang moralitas, tapi ia juga akan berkata bahwa ia belajar soal tragedi seorang anak manusia.
Foto: Insiden yang mengakibatkan Luc Nilis (kanan) patah kaki yang membuat ia harus pensiun. (ist)
(arp/a2s)











































