Revolusi Ramos Mulai Berbuah

Revolusi Ramos Mulai Berbuah

- Sepakbola
Senin, 25 Feb 2008 05:42 WIB
Revolusi Ramos Mulai Berbuah
London - Ini jawaban kenapa Daniel Levy begitu ngotot membujuk Juande Ramos supaya mau bekerja di White Hart Lane. Revolusi pria Spanyol itu buat Tottenham Hotspur mulai berbuah.

Ketika kapal Spurs mulai oleng di tangan Martin Jol, di kepala sang ketua klub, Levy, hanya ada satu nama: Ramos. Sukses dia membesut Sevilla dengan menjuarai Piala UEFA dua kali berturut-turut, plus Copa del Rey musim lalu, membuat Levy seperti membabi buta menginginkan Ramos.

Maka ketika momentum untuk memecat Jol didapat, Ramos pun segera direkrut. Sebagai asisten sekaligus penerjemah, diberikan kepadanya mantan pemain Spurs asal Uruguay, Gustavo Poyet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan gayanya Ramos melakukan gebrakan. Prinsip terkenal dari dia adalah tidak ada pemain bintang dalam sebuah tim. Yang ngeyel takkan mendapatkan tempat. Itu sebabnya ia mempersilakan Jermaine Defoe hengkang ke Portsmouth.

Pria 53 tahun itu juga memperbaiki karakter beberapa pemain, termasuk si flamboyan Dimitar Berbatov, yang di lapangan sering terlihat seperti seorang pemalas.

Salah satu kunci sukses Ramos adalah fokusnya pada soal kebugaran, sebagaimana diakui beberapa pemain. Seorang Tom Huddlestone, misalnya, dengan cepat mampu menurunkan berat badannya yang sempat di atas 90 kg, berkat program diet ketat yang diberikan sang pelatih.

Polesan tangan Ramos terlihat dengan terus menanjaknya posisi Spurs di klasemen Liga Inggris. Dari zona degradasi saat ditinggalkan Jol, kini The Lilywhites beredar di papan tengah.

Statistik Spurs di bawah kendali Ramos juga tergolong baik. Dari 28 pertandingan di semua kompetisi mereka menang 15 kali dan hanya kalah lima kali. Dua kemenangan terbaik mereka tentu saja di ajang Piala Liga Inggris.

Di semifinal Spurs menghancurkan klub kuat sekaligus rival sekotanya, Arsenal, dengan skor mencolok, 5-1. Sukses itu berlanjut di babak final tadi malam, Minggu (2/2/2008), saat Spurs menghadapi Chelsea.

Meskipun lawannya bertabut bintang, tapi Spurs berhasil mendominasi pertandingan. Kecolongan gol pertama dari tendangan bebas Didier Drogba di menit 39 tidak merusak karakter permainan mereka.

Sebaliknya, karakter kuat membuat Berbatov dapat mencetak gol balasan melalui titik putih, lalu Jonathan Woodgate memastikan kemenangan Spurs di menit keempat babak perpanjangan waktu. Spurs menang 2-1 dan berhak mengangkat tropi juara.

Itulah kali pertama Spurs meraih sebuah piala setelah kali terakhir memenangi turnamen yang sama di tahun 1999 alias sembilan tahun silam.

Spurs masih berpeluang menambah gelar di musim ini karena masih bertahan di ajang Piala UEFA. Dengan Ramos yang berpengalaman dua kali memenangi turnamen tersebut, fans Spurs boleh berharap banyak bisa tertular.

"Tim ini sangat mengagumkan. Saya harap ini adalah awal dari sesuatu yang besar," cetus Poyet setelah Spurs menjuarai Piala Carling. Revolusi ala Ramos memang telah menghasilkan satu buah yang manis. Selanjutnya waktu yang akan membuktikan.

(a2s/arp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads