Perselisihan dua pengusaha Amerika Serikat pemegang saham mayoritas Liverpool itu sesungguhnya sudah berlangsung beberapa waktu. Namun seminggu terakhir konstalasinya terus meningkat bahkan hingga saling serang melalui media massa.
Pekan lalu dalam wawancara dengan Sky, Hicks meminta sang Presiden Eksekutif, Rick Parry untuk meletakkan jabatannya. Saat itu Hicks menyebut kepemimpinan Parry sebagai "bencana" buat Liverpool.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa hari sebelum laga vital menghadapi semifinal Liga Champions, Tom sekali lagi menciptakan kekacauan dengan komentar yang dikeluarkannya pada publik. Tom harus berhenti melakukannya, dia tahu kalau Rick Parry mendapat dukungan. Mengutarakan pendapatnya pada publik tak akan mengubah pendirian saya," ungkap Gillett seperti diberitakan Yahoosport.
Keberadaan Gillett dan Hick di Anfield sesungguhnya sudah tak diinginkan lagi oleh "Liverpudlian" karena keduanya dianggap tak menjalankan Liverpool dengan baik. Selain sempat didemo, dalam peringatan 19 tahun tragedi Hillsborough duo Amerika Serikat itu kembali mendapat kritikan tajam.
Fans Liverpool juga pernah meminta agar Gillett dan Hicks melepas sahamnya pada Dubai International Capital yang sudah terang-terangan menyatakan keinginan mengakuisisi tersukses di Inggris itu. Gillett sempat dikabarkan akan menjual 98% saham yang dimilikinya, namun kemudian urung dilakukan karena diblok oleh Hicks, yang kemudian berniat membeli saham Gillet.
"Tom harus tahu kalau saya tak akan menjual saham yang saya miliki dan kami harus menemukan jalan untuk membiayai Liverpool dengan sepantasnya," ungkap Gillett.
Sayangnya suhu panas ini mungkin belum akan cepat mendingin dalam waktu dekat karena Tom juga enggan melepas hak kepemilikan. "Jika George tidak menjual -- dan saya juga tak akan menjual -- saya kira kami akan terus bertahan dalam posisi seperti ini," sahut Hicks beberapa waktu lalu.
(din/a2s)











































