Awal pekan ini Thaksin Shinawatra melontarkan komentar mengisyaratkan kekecewaan perihal performa Manchester City. Mampu bertarung di papan atas pada awal musim, The Citizens kini tercecer di posisi delapan klasemen dan terancam tak dapat tiket ke Eropa.
"Kami akan melihat bagaimana kondisinya di akhir musim, mengevaluasi klub dan semua orang di dalamnya," ungkap Thaksin yang kemudian memunculkan spekulasi soal Eriksson yang tak akan menjalani musim kedua bersama City karena terancam dipecat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini jenis cerita yang sama sekali tidak mengganggu saya. Kehidupan saya di sepakbola bersanding juga dengan rumor-rumor. Saya punya kontrak untuk dua musim lagi, itu saja. Saya di sini untuk menyelesaikan apa yang saya mulai," sahut Eriksson yakin seperti diberitakan Timesonline.
Meski sudah 30 tahun menggeluti profesi pelatih di delapan klub berbeda, baru tahun ini Eriksson menangani klub Inggris. Membesut klub Premier League disebut Eriksson membuat dirinya mempelajari sesuatu yang berbeda.
"Tentu saja Anda mempelajari sesuatu. Saya pikir mungkin kami berlatih terlalu keras saat Natal. Secara mental saya pikir pemain sangat lelah setelah tahun baru dan Januari, jadi saya akan melakukan perubahan untuk musim depan," lanjut Erisksson di Goal.
Soal menurunnya grafik City di paruh kedua kompetisi juga diakui pelatih yang memulai pekerjaan sebagai pembesut sejak tahun 1977 itu. Karena baru mendarat di City bulan Juli, yang berarti tinggal punya waktu sedikit sebelum transfer window di tutup, Eriksson merasa dirinya masih pantas diberi waktu tambahan.
"Saat sang pemilik baru datang, saya memulai pekerjaan dengan sangat terlambat untuk membeli pemain, (padahal) berdasar pengalaman membeli pemain bulan Januari sangat sulit, sangat sulit. Tapi sekarang kami punya banyak waktu untuk musim depan dan punya persiapan yang jauh-juah lebih baik," pungkas Eriksson. (din/a2s)











































