Analisa tersebut tak datang dari sembarang orang, karena tuturan ini keluar dari mulut George Graham yang pernah membesut "The Gunners" selama sembilan tahun. Graham bahkan bisa dibilang sebagai salah satu pelatih yang punya arti penting di Highbury --markas lama Arsenal.
Ketika datang pada Mei 1986, Graham mampu membalikkan peruntungan Arsenal dengan mengantarkan mereka meraih piala --yang sudah tak diraih Arsenal sejak tahun 1978/79 saat juara Piala FA-- yaitu Liga Inggris di bawah kepemimpinan kapten Kenny Sansom tahun 1987.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Graham yang dikenal punya karakter kepelatihan disiplin tetap tak mampu mengendalikan kebiasaan para pemain bintangnya menenggak minuman keras dan mabuk-mabukan. Itulah yang masih disesali Graham.
"Saat saya melihat ke belakang di masa-masa saya menangani Arsenal pada tahun 80-an, saya membayangkan berapa banyak yang bisa kami capai jika tim saya tak kerap mabuk-mabukan," tulis Graham dalam otobiografi Sansom, To Cap It All, seperti dilansir Daily Mail.
"Jangan salah duga, mereka semua memberikan apa yang mereka mampu --Kenny, Tony Adams, Paul Merson dan lainnya-- tapi aktivitas mereka di luar lapangan pasti punya efek merugikan kepada penampilan mereka secara keseluruhan. Tony dan Paul pernah bicara tentang pertarungan mereka dengan kecanduan (alkohol) dan sekarang giliran Kenny membicarakan kisahnya," imbuh Graham.
Selain memberikan kritik, Graham yang sekarang berusia 63 tahun itu juga memuji Sansom dengan menyebutnya sebagai bek kiri yang jenius.
(krs/krs)










































