Premier League Mati Suri

Premier League Mati Suri

- Sepakbola
Senin, 25 Agu 2008 12:40 WIB
Premier League Mati Suri
London - Kompetisi sepakbola Liga Inggris sudah masuk minggu kedua. Tetapi tahukah anda kalau sambutan publik seperti mati suri?  

Stadion belum penuh, perbincangan menuju tempat kerja ataupun tempat minum (pub) tidak didominasi oleh ABCDnya pertandingan bola, acara phone in, baik radio maupun televisi, juga sepi. Inggris Raya seperti bukan satu negara gila bola.

Salah satu penyebabnya tentu saja adanya Olimpiade Beijing yang ditutup hari Minggu kemarin. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya media massa masih ringan memberitakan hiruk pikuk sepakbola. Kalah sangat jauh dengan liputan Olimpiade. Apalagi Inggris Raya mencatat prestasi perolehan terbaiknya sepanjang sejarah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang lebih telak lagi karenanya dengan prestasi bagus atlit-atlit Inggris Raya di Olimpiade adalah terbangkitkannya kebanggaan patriotik yang lama tidak mampu dijunjung oleh sepakbola. Kebanggaan menjadi orang Inggris Raya – Great Britain -, satu negara, satu bangsa terluncaskan. Terasa lebih penting, lebih berarti, lebih memuaskan, lebih luas dari sekadar sektarianisme klub sepakbola.

Orang juga membandingkan atlet Olimpiade yang berlaga (relatif) bukan karena dorongan raupan uang. Dalam pengertian yang utama adalah mengharumkan negara dan bangsa, uang akan datang sendirinya dengan prestasi. Itupun tidak akan seberapa, kecuali untuk bintang segala bintang semacam Michael Phelps dicabang renang maupun Usain Bolt dicabang atletik. Bandingkan dengan sepakbola (liga utama Inggris) yang nilai industrinya sekental olahraganya sendiri.

Bukan sekadar kalangan umum yang menilai persoalan ini tetapi juga para penggemar bola dan pendukung klub liga utama Inggris sendiri. Selama libur musim panas yang menjadi musim transfer pemain, mereka dipertontonkan dengan ketamakan para bintang sepakbola di Inggris. Ini membangkitkan kemuakan dan dis-ilusi para penggemar sepakbola Inggris.

Tarik menarik antara Cristiano Ronaldo dengan Manchester United misalnya, terlepas dari godaan yang ditawarkan Real Madrid dan tunduknya pemain itu pada akhirnya terhadap ikatan kontrak yang sejak awal ia tandatangani dengan senang hati, dianggap para penggemar bola cerminan puncak akan ketamakan seorang pemain bola. Upaya untuk meraup sebanyak mungkin uang, bahkan dengan mengatakan dirinya korban perbudakan modern.

Para penggemar bola Inggris menganggap semua klub sepakbola mempunyai Cristiano Ronaldonya sendiri-sendiri. Bahkan menurut penggemar sepakbola Inggris, begitulah cara berfikir semua pemain sepakbola. Tidak ada kesetiaan dan tidak ada kebanggaan bermain untuk klub yang mengontraknya.
 
Pengaruh Olimpiade dan kemuakan para penggemar bola terhadap perilaku para pemain bola ini belum pudar di pekan kedua putaran kompetisi liga utama Inggris. Tentu pada waktunya antusiasme publik bola di Inggris ini akan kembali. Mungkin pekan depan, bulan depan, atau entah kapan. (lza/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads