Tak banyak yang bisa dilakukan Dinho di pekan-pekan perdana kedatangannya di Milan. Meski masih punya sentuhan-sentuhan magis, pesepakbola 28 tahun itu sering terhambat oleh bobotnya sendiri.
Momen yang bisa dibilang jadi kebangkitan Dinho adalah gol penentu kemenangan Rossoneri yang dicetaknya ke gawang Inter Milan. Penampilan bagus Dinho berlanjut di Piala UEFA saat membantu Milan memetik kemenangan 1-0 atas FC Zurich.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berharap bisa kembali menjadi salah satu yang terbaik di dunia dalam waktu dekat," ungkap Dinho pada La Gazzetta dello Sport seperti diberitakan Channel4. "Saya terus bekerja untuk mendapatkan itu, tapi sekarang ini saya masih beradaptasi dengan lingkungan baru ini."
Meski begitu mantan pemain terbaik dunia versi FIFA tahun 2004 dan 2005 itu juga sadar kalau permainannya masih jauh dari stabil. Karena Seri A disebut Dinho sangat berbeda dengan La Liga, dia mengaku mengalami sedikit kesulitan.
"Performa saya masih tidak konsisten - saya bermaind dengan baik pada satu pertandingan lalu di pekan selanjutnya tidak impresif. Sepakbola Italia sangat berbeda dengan La Liga. Ini berat dan benar-benar kompetitif, tapi pemain selalu loyal dengan timnya," pungkas dia. (din/roz)











































