Kesan pasrah tersebut tercermin dari ucapan Spalletti setelah timnya kalah 0-2 dari tuan rumah Juventus pada lanjutan Liga Italia hari Minggu (2/11/2008) dinihari WIB.
"Aku punya kedekatan yang besar dengan klub ini. Roma punya owner, dan mereka-lah yang harus mengambil keputusan yang harus diterima (semua pihak)," ujarnya, seperti dikutip Channel4.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Roma kalah tujuh kali dari total 11 pertandingan yang telah mereka lakoni di semua kompetisi musm ini. Khusus di Seri A, kekalahan dari Juventus adalah yang keenam dari sembilan giornata.
Celakanya, tren kekalahan ini membuat anak-anak Il Lupo menjadi "penakut". Spalletti mencontohkan, walaupun bermain baik di babak pertama, tapi mental pasukannya langsung berubah setelah Alessandro del Piero mencetak gol pertama lewat tendangan bebas.
"Kami takut kalah lagi dan malah tak bisa membaik di lapangan. Sebagai sebuah kesatuan kami sedikit retak karena kami takut tak bisa bangkit," ungkap pelatih berusia 48 tahun itu.
"Aku suka cara main kami di babak pertama, dan juga menghargai usaha anak-anak selama 90 menit. Tapi ketika keinginan dan semangat untuk bermain bagus sudah ada, sekalipun pergerakan kami tidak terlalu kompak, tapi tetap kalah juga, aku tak tahu apa lagi yang mesti dilakukan."
Sikap takut kalah itu telah dijadikan Spalletti sebagai pekerjaan khusus yang harus segera ia benahi. Yang pasti, ia harus melakukannya dengan cepat karena fans sering kali hanya mau hasil yang keluar di lapangan. Dan suporter Roma mulai tak sabaran.
(a2s/a2s)











































