Seteru mungkin bukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan pola hubungan antara dua pelatih itu. Tapi sebagaimana Jose Mourinho dikenal, setiap komentar yang dilontarkannya adalah sebuah undangan yang mungkin membuat orang sebal pada pelatih Portugal itu.
Terkait ke hubungan Mourinho-Ancelotti, percik api perseteruan antara mereka berdua bahkan sudah terlihat saat Mourinho masih menganggur dan diisukan akan mengisi posisi Carletto yang saat itu santer dikabarkan bakal meninggalkan Rossoneri. Ancelotti kemudian tak jadi meninggalkan Giuseppe Meazza, namun komentar pedasnya pada Mourinho bisa dibilang menjadi titik awal dari kisah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancelotti harus menunggu sekitar tujuh bulan untuk mendapat balasan dari mantan pelatih FC Porto itu. Tak lama setelah resmi ditunjuk membesut Nerazzurri, Mourinho langsung memuntahkan apa yang telah lama dia simpan: sebuah serangan balasan buat Ancelotti.
"Mungkin dia lupa bahwa dalam sejarah Milan, Arrigo Sacchi membuat mereka memainkan sepakbola yang paling baik. Dan Sacchi, seperti juga saya, tak pernah bermain sepakbola di level atas. Dokter gigi saya hebat, tapi dia tidak pernah mengalami sakit gigi," balas Mourinho saat itu.
Panasnya tensi antara kedua pihak tak berhenti sampai di situ. Saat gol tunggal Ronaldinho memastikan kemenangan Milan atas Inter di putaran pertama lalu, Mourinho menilai Milan tak pantas memetik kemenangan, kedua tim disebutnya bermain sama bagus dan menganggap imbang adalah hasil teradil.
Saat Mourinho diusuir wasit dalam laga kontra Sampdoria, Carletto melontarkan kritikan keras pada koleganya itu. Tudingan Mourinho kalau pelatih "takut" disebut Ancelotti sebagai bukti kalau mantan pembesut Chelsea itu tak punya rasa hormat.
Β
"Menurut saya wasit tidak takut. Saya rasa Mourinho kurang memiliki rasa hormat dan keputusan untuk mengeluarkannya sangat tepat," tutur mantan pelatih Juventus dan Reggina itu.
Dalam wawancaranya dengan Calciomercato, Ancelotti kembali menegaskan betapa berbedanya dia dengan Mourinho. Hobi Mourinho yang kerap mengkritik pemainnya sendiri di hadapan publik disebutnya bukan sesuatu yang bijak. GHal tersebut seharusnya dibahas secara internal di dalam tim.
"Saya tidak melakukan hal itu (mengkritik pemain di hadapan publik). Sikap yang seharusnya ditunjukkan saat mengatur sebuah tim adalah untuk membawa harmoni. Segala sesuatu harus didiskusikan dengan tim, dengan pemain-pemain, tapi tidak di hadapan publik," sahut Carletto.
Setelah kemenangan di pertemuan pertama lalu, Carletto untuk sementara unggul 1-0 atas Mourinho. Apakah Mourinho bisa menyamakan kedudukan menjadi satu-satu, itu baru akan bisa dijawab usai laga Senin dinihari WIB.
Yang jelas usai laga tersebut saling lempar komentar bakal terus berlangsung. Kita tunggu saja. (din/krs)










































