Awal Februari lalu, Milan berturut-turut ditahan tim peringkat buncit Reggina dan dibekap rival sekotanya, Inter Milan. Kecewanya Milanisti ternyata tak terobati dengan kemenangan atas Cagliari. Bukannya dipuji, justru sorakan yang didapat Clarence Seedorf cs.
Tersingkirnya Milan dari ajang Piala UEFA serta kekalahan dari Sampdoria kian menyudutkan posisi Ancelotti. Suara-suara yang mendesak pergantian pelatih berusia 49 tahun itu mulai menyeruak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ultimatum dari para petinggi klub pun mulai menghampiri Ancelotti dan pasukannya. Rossoneri harus menggapai peringkat tiga atau bersiap melihat adanya perubahan besar-besaran, tak terkecuali di pos allenatore.
Tetapi semua tudingan itu bagai lebur ketika Milanisti menyaksikan timnya tampil perkasa mengatasi Atalanta 3-0; sebuah kemenangan yang tidak diraih dengan mudah, tidak sesederhana skornya.
Milan tengah mengalami krisis pemain. Diavolo Rosso dipaksa merumput tanpa playmakernya, Kaka, juga Clarence Seedorf, Massimo Ambrosini Kakha Kaladze, Alessandro Nesta, Gennaro Gattuso serta Giuseppe Favali. Kebanyakan dari mereka sedang cedera.
Melihat semua situasi itu, maka pantaslah kredit diberikan kepada Ancelotti meski semua orang menyoroti Filippo Inzaghi dengan trigolnya. Berkat strategi Carletto-lah Milan bisa melihat cahaya terang.
Bagi Carletto sendiri, kemenangan itu juga berarti mendinginkan kursi panas yang selama ini didudukinya. Setelah ini, seharusnya tak ada lagi petinggi klub atau pendukung yang menggugat posisinya.
"Kami sedang berada di situasi darurat hari ini dan saya berharap hasil ini bisa membuat masa-masa sulit itu berakhir," ujar Ancelotti yang dikutip Football Italia.
(arp/key)










































