Kepada harian Swedia, Sfide, ia mengungkapkan beberapa hal, salah satunya alasan dia meninggalkan Juventus di tahun 2006, klub pertamanya di "Negeri Pizza". Waktu itu banyak yang menganggapnya tidak loyak mentang-mentang "Si Nyonya Tua" dilempar ke Seri B karena skandal pengaturan skor.
"Aku meninggalkan Bianconeri bukan karena Calciopoli," tuturnya. "Sesuatu tidak berjalan antara klub dan aku, dan aku sudah memutuskan pergi sebelum skandal itu terkuak."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua musim membela Juve Ibrahimovic mencetak total 26 gol di semua kompetisi. Sinarnya kian benderang setelah memperkuat Inter. Di musim pertamanya ia mendulang 15 gol di Seri A, berikutnya 17, dan musim lalu 25 dan tampil sebagai top skorer.
"Di Turin aku merasa seperti seorang superstar. Tapi klub yang paling banyak mengajariku adalah Ajax. Mereka mengajari aku lebih banyak ketimbang klub-klub manapun," sebutnya, menyebut tim Belanda yang dihuninya dari 2001 sampai 2004 itu.
"Di Italia, Inggri dan Spanyol, mereka merekrut pemain-peman yang sudah jadi. Mereka ingin mendapatkan hasil dengan cepat. Berbeda dengan di Ajax. Mereka menguatkan Anda dengan latihan dan disiplin," papar pria berdarah Kroasia-Bosnia itu.
Tentang klubnya saat ini, Ibrahimovic menjelaskan dari mana kesukaannya pada tim 'Biru-Hitam' itu.Β "Aku sudah mendukung Inter sejak masih kecil," kenangnya.
"Suatu hari aku menonton Liga Italia di TV dengan beberapa orang teman, dan kami taruhan uang receh, memilih masing-masing tim. Aku memilih Inter, teman-teman yang lain Juve dan Milan."
(a2s/nar)











































