Bahwa Inter adalah team to beat telah diakui oleh banyak kalangan setempat. Salah satunya adalah Giancarlo Abete, presiden PSSI-nya Italia. Ia mengatakan itu dalam sebuah acara talk show yang disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi lokal.
"Tahun ini Inter akan menjadi tim yang mesti dikalahkan di Seri A," ujarnya. "Saya berharap musim ini lebih seimbang dan kompetitif. Juga, klub-klub bisa lebih bersaing di Eropa untuk menunjukkan bahwa Italia bisa tetap berada di papan atas dalam peringkat UEFA."
Bahkan Juventus melalui pelatih Ciro Ferrara juga merasakan hal serupa. "Mereka masih di atas yang lain," tukas mantan bek internasional Italia itu, yang sejak akhir musim lalu melanjutkan tugas Claudio Ranieri menukangi 'Si Nyonya Tua'.
Kenapa Inter? Tentu saja. Mereka tetap punya skuad bertabur bintang, pelatih jempolan, dan yang terpenting adalah stabilitas tim yang luar biasa. Pergantian pelatih dari Roberto Mancini ke Jose Mourinho tidak mengubah kekuatan mereka di dalam negeri.
Modal-modal itu membuat La Beneamata amat dominan. Sejak menerima limpahan titel Scudetto dari Juventus yang dianulir karena skandal Calciopoli di akhir musim 2005/2006, hingga kini Inter selalu menjadi numero uno di Italia.
Tetangga sekaligus rival utamanya, AC Milan, tak berhasil mengganggu kemapanan "Si Merah Hitam". Juventus, setelah satu musim beradaptasi lagi di Seri A pun belum bisa memberi perlawanan yang terlalu menakutkan pada Inter.
Klub-klub lain? Maaf-maaf saja, era Magnficent Seven sudah lama berlalu. Kasta The Big Four pun, dengan AS Roma sebagai anggota keempat, masih harus diluruskan lagi. Faktanya, kalau ukurannya adalah gelar juara, Roma hanya bisa merengkuh trofi dua kali dalam 26 tahun terakhir, yakni 1983 dan 2001.
'Serigala ibukota' memang tetap merupakan sebuah kekuatan besar. Namun, dengan segala kekurangannya mereka dinilai belum "siap" menjadi juara. Untuk menjadi sandungan bolehlah, tapi untuk sampai mengangkangi Inter, Milan dan Juve, sepertinya masih perlu banyak hal. Namun, mereka masih layak untuk menempati posisi empat besar, setelah musim lalu hanya finish di urutan keenam karena kalah bersaing dengan Fiorentina dan Genoa.
Peta kekuatan Inter di musim ini nyaris tak berubah, tetap hebat. Mourinho akan punya motivasi lebih demi kesuksesan pula di Liga Champions. Hengkangnya Zlatan Ibrahimovic diduga takkan berpengaruh besar karena penggantinya pun tak kalah kelas: Samuel Eto'o. Ditambah Diego Milito dan Lucio, mereka termasuk tim dengan aktivitas transfer yang menonjol di Seri A musim ini.
Milan? Seharusnya ada di depan gerbang sebuah era baru. Masa Paolo Maldini berakhir, stagnasi delapan musim dipegang Carlo Ancelotti telah selesai. Hilangnya Kaka memang sebuah perjudian sangat besar, tapi klub sebesar mereka seharusnya punya prinsip "hilang satu tumbuh seribu".
Sayangnya persiapan Milan belum terlihat manis. Ada niat meremajakan skuad, tapi tanggung. Klaas-Jan Huntelaar dan Oguchi Onyewu digaet, Thiago Silva mulai bisa dipakai. Tapi mereka juga masih menyimpan pemain-pemain tua, termasuk mendepak kiper Zeljko Kalac tapi membawa Flavio Roma yang juga sudah tuwir.
Leonardo? Mantan winger Brasil ini dikenal sebagai pribadi yang cerdas, supel, berpengalaman sebagai pemain, dan tengah dalam semangat luar biasa dalam memulai karirnya sebagai pelatih. Namun, perlu waktu untuk melihat polesan tangan pria 39 tahun ini. Sejauh ini, dari serangkaian pertandingan pra-musim, Milan tidak terlihat sebagai tim yang prospektif di sebuah era yang baru ini. Tapi, Milanisti bolehlah berharap bahwa ujicoba adalah ujicoba, dan kompetisi adalah target utama. Singkat kata, tunggu Leonardo dalam satu bulan ke depan.
Juventus diramalkan sebagai tim yang paling bisa merepotkan Inter. Bursa-bursa taruhan menempatkan 'Si Zebra' di urutan nomor dua sebagai kandidat juara. Ferrara adalah sebuah faktor yang menjanjikan, ditambah perekrutan Diego Ribas da Cunha, Felipe Mello, dan bek veteran Fabio Cannavaro.
Barisan belakang Juve disebut-sebut berpotensi sebagai yang terbaik. Cannavaro belum habis dan dia akan semakin mematangkan talenta-talenta bagus dalam diri Nicola Legrottaglie dan Giorgio Chiellini. Mello dan Diego akan memberi sentuhan baru di lini tengah, bersama produk lokal Sebastian Giovinco. Di depan, kuarter Alessandro Del Piero, David Trezeguet, Amauri, dan Vincenzo Iaquinta masih bisa diandalkan.
Sementara itu tim-tim papan tengah sepertinya masih akan bersaing di kelasnya. Roma, Fiorentina, Genoa, Lazio, Sampdoria, Udinese dan Napoli pastinya punya peran masing-masing untuk menghidupkan, menyemarakkan, dan memberi warna-warna tersendiri pada kompetisi. Tapi barangkali peran mereka masih sebatas menjadi "kuda hitam", "tim kejutan", dan semacamnya. (a2s/arp)











































