Begitulah. Wacana "membantu" Inter Milan supaya AS Roma tidak jadi juara Seri A musim ini, rupanya benar-benar dijalani Laziale, khususnya kelompok suporter garis keras alias ultras.
Pada pertandingan di Olimpico, Senin (3/5/2010) dinihari WIB, mereka secara eksplisit memperlihatkan kegembiraan ketika gawang Lazio dua kali dibobol Inter, masing-masing oleh Walter Samuel dan Thiago Motta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendukung Lazio bergabung dengan "temannya" dari Inter untuk bersama-sama menyuarakan sebuah "pernyataan" anti-Roma. "Yang tidak ikut jingkrak, berarti dia fans Roma," demikian salah satu di antaranya.
Lalu, di akhir pertandingan -- Lazio kalah 0-2 -- terbaca pula sebuah spanduk bertuliskan "Scudetto: Game Over".
Apa yang dilakukan tifosi Lazio tersebut jelas merupakan sebuah upaya agar Roma tidak juara. Sebagaimana diketahui, Roma adalah musuh besar Lazio dan hanya mereka yang bisa mengganjal Inter memenangi kompetisi musim ini.
"Apakah kelakukan fans itu mempengaruhi kami? Sedikitnya, ya," ungkap asisten manajer Lazio, Giovanni Lopez.
"Kami sudah berusaha menghindari lingkungan yang tidak nyata ini, tapi itu tidak gampang. Paling tidak kami sudah memulainya dengan motivasi yang benar. Staf fokus pada yang terjadi di lapangan, tapi kami juga menyadari seisi stadion malah bersorak sorai waktu Walter Samuel bikin gol."
Sementara itu direktur sport Inter, Marco Branca, mengaku tidak terlalu kaget dengan reaksi Laziale yang begitu mencolok itu. Menurutnya, hubungan antarfans kedua tim memang cukup baik, dan itu sudah berlangsung lama.
(a2s/nar)










































