Tak ada orang yang lebih mengharapkan Inter Milan berprestasi ketimbang Moratti. Pria 65 tahun itu sudah banyak mengeluarkan kebijakan hanya untuk melihat La Beneamata mengangkat trofi juara.
Beberapa kebijakan di antaranya adalah membeli pemain-pemain asing atau mahal. Javier Zanetti, Youri Djorkaeff atau Ronaldo hanya sebagian di antara banyak pemain yang dibelinya di medio 90-an. Termasuk juga pergantian pelatih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka, kala Inter tak tampil memuaskan pada awal musim ini, muncul pertanyaan, apakah Moratti akan memecatnya? Jawabannya tidak.
Moratti yang sekarang sudah jauh lebih sabar. Ada kecenderungan dirinya lebih memilih untuk mempertahankan posisi pelatih sampai akhir musim. Kecenderungan ini terlihat dari kasus Roberto Mancini di musim 2007/08.
Kala itu, Inter tersingkir dari Liga Champions di tangan Liverpool. Mancini pun sudah menyatakan mundur usai pertandingan di Giuseppe Meazza. Namun, ia membatalkannya setelah melakukan pertemuan dengan Moratti.
Masa kepelatihan Mancini baru usai pada akhir musim itu. Selanjutnya, Inter pun memulai hidup baru dengan Jose Mourinho.
"Sepuluh tahun lalu? Mungkin iya. Mungkin dalam situasi itu saya akan memecatnya. Tapi pengalaman membuat Anda lebih memahami sesuatu," tukas Moratti kepada Mirror.
"Saya tak pernah membiarkan diri saya untuk tergoda dan keluar dari kesabaran saya, tapi juga karena saya punya rasa hormat padanya."
Seperti diketahui, Inter saat ini berada di posisi lima klasemen dengan nilai 23, atau tertinggal tujuh angka dari AC Milan, si pemuncak klasemen. Empat pertandingan dilalui Inter tanpa kemenangan, dan baru akhir pekan lalu, kala mereka membekuk Parma 5-2, puasa kemenangan itu berakhir.
Menarik untuk ditunggu bagaimana nasib Benitez di akhir musim nanti. Masihkah ada kesabaran Moratti di sana?
(roz/a2s)











































