Awal perselisihan tentunya adalah saat Ranieri didepak Chelsea pada 2004 dan Mourinho datang menggantikannya. Setelahnya Mourinho pun menuai kesuksesan bersama The Blues, tak seperti Ranieri.
Persaingan keduanya berlanjut ke Seri A saat Mourinho melatih Inter. Dalam dua musim beruntun, Mourinho selalu mengalahkan Ranieri dalam perebutan scudetto. Setelah Juventus cuma jadi runner-up pada musim 2009, semusim berikutnya giliran AS Roma bernasib sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku bukanlah fans palsu, melainkan aku adalah fans sejati Inter," sahut Mourinho dalam konfererensi pers di markas Real Madrid.
"Inilah mengapa aku tidak peduli siapa pelatihnya, aku hanya ingin Inter menang. Jika saat ini Ranieri, maka aku akan bilang Forza Ranieri. Aku berharap dia akan sukses di sana," lanjut Mourinho.
Sejak ditinggal Mourinho, La Beneamata sudah berganti empat kali pelatih. Apakah ini pertanda Mourinho masihlah yang terbaik untuk klub Massimo Moratti itu?
"Jangan khawatir, aku bukanlah pelatih yang hebat. Pelatih sepertiku pun terkadang juga bisa gagal," tuntas Mourinho seperti diwartakan Football Italia.
(mrp/mrp)










































