Kutukan Apa Lagi, Inter?

Kutukan Apa Lagi, Inter?

- Sepakbola
Jumat, 12 Nov 2004 10:00 WIB
Jakarta - Hampir di setiap awal musim baru Inter menatap kompetisi dengan segenap keyakinan bahwa skuad terbaru mereka bakal lebih baik dari sebelumnya.Begitu pula dengan musim ini. Internisti mana yang tidak optimis dengan, antara lain, kehadiran si gelandang pekerja Edgar Davids dan sederet pemain baru lainnya. Juga dengan kian matangnya permainan Adriano dan Obafemi Martins, serta tentu saja masuknya pelatih muda bertalenta tinggi, Roberto Mancini. Tapi yang terjadi kemudian sungguh menyeret fans Inter kembali ke musim-musim sebelumnya: juara adalah gambaran buram dari tim ini. Faktanya, hingga pekan ke-11 Seri A Javier Zanetti dkk baru menang dua kali dan sembilan kali seri. Bahwa mereka juga belum terkalahkan menjadi data yang akhirnya tidak istimewa. Anda tahu, itulah rekor awal musim terburuk Inter dalam empat tahun terakhir.Aroma bahwa Inter punya "kutukan" tercium di Renato Dall'Ara hari Rabu (10/11/2004) kemarin. Unggul dua kali sebelum disamakan 2-2 oleh Bologna, Inter hanya nyaris menang ketika dua peluang Martins dan Nicolas Burdisso dimentahkan tiang gawang lawan di detik-detik terakhir."Inter pernah memiliki bermacam-macam pelatih: yang tubuhnya besar, yang kecil, pelatih berpengalaman, pelatih muda, yang botak, yang berambut. Mungkin memang ada semacam kutukan di sana," seloroh pelatih Bologna yang dijuluki "Engkongnya Seri A", Carlo Mazzone.Hm, kutukan? Apa urusannya "mahluk" itu masuk ke lapangan bola? Entahlah. Yang jelas, Inter yang kaya raya itu, yang pemiliknya adalah raja minyak Italia, yang tak pernah kehabisan duit untuk membeli pemain bintang, sudah kelewat lama merasakan jadi juara di tanahnya sendiri: 1989.Nasib ini ironi dengan antusiasme pendukung Inter dalam mendukung tim kesayangannya itu. Padahal, mereka adalah fans klub Italia yang penjualan tiket pertandingan kandangnya selalu paling tinggi. Bandingkan dengan Juventus misalnya. Meskipun diklaim punya penggemar terbanyak di Italia, tapi Delle Alpi sering kosong. Hasil penjualan tiket terusan klub Turin ini hanya berada di urutan kelima.Fans Inter juga tergolong baik, tidak seperti Lazio atau Roma. Sesekali mereka melakukan protes, tapi tidak kelewat agresif. Tapi mereka juga punya keinginan, meskipun sadar bukan mereka yang memainkan bola di tengah lapangan.Musim lalu mereka menemukan momen untuk "menyambut" hasil positif yang bisa diperoleh Inter. Mendengar Mohammed Kallon gagal tes doping, mereka mengusung sebuah poster di stadion bertuliskan: "Setelah 14 tahun akhirnya ada yang positif: Kallon". Duh."Saya datang ke Inter untuk mencoba membangun sebuah skuad yang akan menjadi besar dan bertahan lama. Untuk itu kami butuh waktu," begitu salah satu pembelaan Mancini tentang hasil polesannya yang belum juga matang.Butuh waktu berapa lama, Signor Mancio? Anda adalah pelatih ke-11 Inter dalam 10 tahun terakhir ini. Jangan-jangan justru Anda-lah yang tidak punya waktu kelewat lama, seperti halnya pelatih-pelatih Inter terdahulu yang hampir selalu berakhir dengan pemecatan.Solusi apakah yang bisa diusahakan untuk keluar dari "kutukan" ini? Mungkin Anda punya jawabannya, mumpung dalam waktu dekat ini big boss Massimo Moratti akan memanggil presiden Giacinto Facchetti, Mancini, dua direktur utama Lele Oriali dan Marco Branca untuk membahas keadaan ini. Duh. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads