Pesaingnya Tersandung Kasus Rasialisme, Albertini Jadi Ketua PSSI-nya Italia?

Pesaingnya Tersandung Kasus Rasialisme, Albertini Jadi Ketua PSSI-nya Italia?

- Sepakbola
Senin, 04 Agu 2014 16:02 WIB
Pesaingnya Tersandung Kasus Rasialisme, Albertini Jadi Ketua PSSI-nya Italia?
Carlo Travecchio (kiri) dan Demetrio Albertini.
Roma -

Federasi Sepakbola Italia (FIGC) mulai memasuki bursa pemilihan presiden baru. Eks gelandang AC Milan Demetrio Albertini akan melenggang menjadi pemenangnya?

Dugaan Albertini akan memenangi bursa terkait kasus rasialisme yang sedang melilit pesaingnya, Carlo Tavecchio. Sebabnya, dalam beberapa hari terakhir ini Tavecchio terus dikritik, bahkan FIFA pun meminta masalah ini diselidiki.

Beberapa waktu lalu Tavecchio, yang selama 15 tahun memimpin Lega Nazionale Dilettanti (LND) -- liga sepakbola amatir Italia, mengkritik lemahnya sistem perekrutan pemain-pemain non-Uni Eropa di negaranya. Di situ, ia memakai sebuah frase yang dianggap rasial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Inggris, mereka mengidentifikasi setiap pemain yang masuk. Jika mereka profesional, mereka baru diperbolehkan main," ucapnya.

"Di sini (Italia), yang kita dapatkan adalah 'Opti Poba', yang sebelumnya makan pisang, tapi tiba-tiba menjadi pemain di tim pertama Lazio."

Kalimat "makan pisang" itulah yang bikin heboh -- sedangkan Opti Poba cuma tokoh fiktif.

Sebelum ucapan itu terlontar, Tavecchio kabarnya mendapat dukungan dari 18 klub Serie A minus Juventus dan AS Roma. Tapi dengan kasus ini, bisa jadi dukungan buat dirinya menurun drastis. Fiorentina, Sassuolo, Sampdoria, dan Cesena, kabarnya sudah menarik diri dari dukungannya pada pria 71 tahun itu.

Sejauh ini hanya Milan yang sepertinya masih akan mendukung Tavecchio -- walaupun Albertini adalah eks pemain mereka. Hal itu terindikasikan dari pernyataan Adriano Galliani.

"Lelucon yang tidak menyenangkan. Tapi ya sudah, itu saja. Kehidupan Tavecchi selalu tercurahkan pada lembaga-lembaga. Dia bukan seorang yang rasialis. Itu hanya sedikit candaan," sahut Galliani.

Tavecchio sendiri dalam pembelaan pertamanya mengaku tidak ingat apakah dirinya mengucapkan kalimat "makan pisang" tersebut. Namun ia juga meminta maaf.

Dalam wawancara terakhirnya dengan radio RAI hari Minggu (3/8) kemarin, ia mengaku sangat menderita gara-gara ekspos media yang menyoroti pernyataan kontroversialnya itu.

"Pembunuh John F. Kenndey tidak mengalami penderitaan seperti yang saya rasakan dalam beberapa hari terakhir ini," ucapnya.

"Hari-hari belakangan ini menandai 30 tahun sejak saya memulai pekerjaan saya di Afrika, ketika saya membantu membangun sebuah rumah sakit."

Apapun pembelaan Tavecchio masih belum bisa diterima banyak kalangan, termasuk pemain. Kiper Roma Morgan de Sanctis misalnya, terang-terangan menyayangkan hal itu.

"Dia tidak cocok. Kalau FIGC ingin berubah, mereka tidak bisa melakukannya dengan sosok seperti dia," demikian komentar De Sanctis, seperti dilansir Reuters.

Komentar lebih panjang dilontarkan bek kawakan Giorgio Chiellini, dalam sebuah sesi konferensi pers kemarin di markas klubnya, Juventus.

"Saya membaca ucapannya itu dan saya merasa malu," ujarnya.

"Saya tidak ada masalah apapun dengan Tavecchio, tapi saat ini, satu-satunya orang yang paling memadai untuk jabatan ini adalah Albertini.

"Kita tidak boleh lagi membiarkan sepakbola Italia mempermalukan dirinya sendiri. Tim nasional lebih besar daripada Tavecchio. Kita harus terhindar dari figur-figur seperti itu. Kita butuh sosok yang pantas dan berkepribadian untuk menjalani tugas-tugas ini," simpulnya.

Tavecchio dan Alberti ini saat ini tercatat sebagai wakil presiden FIGC. Bos mereka, Giancarlo Abete, mengundurkan diri sebagai presiden organisasi tak lama setelah Italia tersingkir di babak grup Piala Dunia bulan lalu di Brasil. Pemilihan akan dilaksanakan pada 11 Agustus mendatang.

(a2s/rin)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads