'Serigala Ibukota' Butuh 'Taring' yang Lebih Tajam

'Serigala Ibukota' Butuh 'Taring' yang Lebih Tajam

- Sepakbola
Rabu, 21 Jan 2015 15:35 WIB
Serigala Ibukota Butuh Taring yang Lebih Tajam
Getty Images Sport/Maurizio Lagana
Jakarta - Sejak musim lalu, AS Roma bangkit jadi pemburu Scudetto dan bersaing ketat dengan Juventus yang selama ini mendominasi. 'Serigala Ibukota' punya kans mendongkel sang rival, tapi punya problem yang perlu diatasi.

Musim lalu Roma tampil mengejutkan di bawah allenatore anyar, Rudi Garcia. Setelah tiga musim berturut-turut tak pernah masuk lima besar, mereka bangkit dan bersaing dengan Juve dalam perebutan titel juara. Namun pada akhirnya anak-anak ibukota harus puas finis kedua.

Di musim kedua Garcia, Roma menargetkan juara Serie A. Perbaikan dilakukan dengan mendatangkan sejumlah pemain baru. Juan Iturbe didatangkan untuk mempertajam lini depan, Seydou Keita menambah opsi di lini tengah, dan Kostas Manolas serta Davide Astori untuk mempertahankan kekukuhan lini belakang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada perjalanannya musim ini, Roma setidaknya sudah mampu mereplikasi performa musim lalu: berada di tempat kedua sampai pekan ke-19 dan tetap sulit dibobol. Baru 14 gol bersarang sejauh ini, hanya kalah dari Juve yang kemasukan sembilan kali.

Namun untuk Scudetto, Roma jelas harus lebih baik. Sederhananya, mereka harus lebih oke dan menang lebih banyak dari Juve. Namun sampai saat ini, hal tersebut belum terwujud secara nyata, terbukti dari komposisi di papan klasemen.

Jika ada sektor yang perlu dibenahi Roma, barangkali adalah lini serang utamanya dalam penyelesaian akhir. Meski kenyataannya Roma menempati urutan keempat dalam produktivitas gol (di belakang Juve, Napoli, dan Lazio), statistik menunjukkan anak asuh Garcia seharusnya bisa lebih baik.

Dicatat Squawka, Roma merupakan tim terbaik dalam mengumpan dan menguasai pertandingan. Rata-rata mereka mencatatkan penguasaan bola 55%, mencatatkan total 17. 451 umpan sukses, dan tingkat akurasi 87%. Ketiganya adalah yang tertinggi di Serie A.

I Lupi juga merupakan salah satu tim teratas soal kreasi peluang. Mereka ada di urutan tiga dengan total 451 peluang, di belakang Juve (465) dan AC Milan (458).

Meski begitu, Roma justru tak masuk lima besar dalam hal rataan tembakan per laga. Dicatat whoscored, Roma cuma menempati urutan tujuh dengan rata-rata 14, 1 tembakan per pertandingan.

Dominannya Roma dalam penguasaan bola dan tingginya jumlah peluang yang diciptakan juga tak berbanding lurus dengan jumlah gol para pemainnya. Top skorer mereka di liga saat ini adalah Adem Ljajic dengan enam gol, yang bahkan tak masuk 10 besar pencetak gol terbanyak.

Bandingkan dengan Juve yang punya Carlos Tevez, yang mencatatkan 13 gol dan berkontribusi 31% dari jumlah gol tim. Napoli punya Gonzalo Higuain (10 gol) dan Jose Callejon (9 gol) yang total menyumbang 55% gol tim. Sementara Lazio punya Stefano Mauri dan Filip Djordjevic yang masing-masing punya tujuh gol, berkontribusi 42% dari gol 'Si Elang'. Seperti yang sebelumnya disebutkan, tiga tim ini punya catatan produktivitas gol yang lebih baik dari Roma.

Singkat kata, Roma tak pernah punya masalah dengan menciptakan peluang. Kreasinya ada, tapi penyelesainnya kurang maksimal. Roma perlu memoles para penyerangnya agar lebih tajam dan lebih efektif.

Yang menarik adalah, dua pencetak gol terbanyak Roma saat ini yakni Ljajic (6 gol) dan Destro (5 gol) bahkan bukan starter reguler. Destro cuma delapan kali turun sebagai starter dari 15 kali tampil dalam 19 pekan Serie A. Dari delapan kali starter, satu laga dijalaninya tak secara penuh.

Sementara Ljajic 12 kali turun sebagai starter dalam 17 laga di 19 pekan. Dari 12 kali starter, hanya tiga kali dia bermain secara penuh. Apakah seharusnya Garcia perlu lebih percaya pada dua pemain ini?

Yang jelas Roma perlu menyelesaikan peluang lebih baik. Dengan rival-rivalnya punya pemain-pemain yang bisa diandalkan untuk mencetak gol, barangkali para penggemar merindukan sosok yang sama. Patut diingat bahwa saat menjuarai liga pada musim 2000-2001, mereka punya Gabriel Batistuta yang mencetak 20 gol sepanjang musim. Selain itu Vincenzo Montella dan Francesco Totti juga tajam dengan 14 gol dan 13 gol secara berurutan.

Mundur ke belakang, musim lalu hanya Destro yang mampu mencapai dua digit gol dengan 13 kali menjebol gawang lawan. Meski tampil kolektif dengan 17 pemain mencetak gol di kampanye tersebut, kenyataannya tak cukup untuk mendatangkan gelar.

Roma perlu penyerangnya tampil lebih efektif dalam upayanya memburu dan melewati Juve. Selama problem ini belum terselesaikan, Juve mungkin bakal tetap jadi gunung yang tak terdaki.

(raw/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads