Menjamu Parma --yang notabene adalah tim juru kunci-- di Stadio Olimpico, Minggu (15/2/2015) malam WIB, Roma tampil dominan dan memegang kendali permainan. Sementara Parma lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik.
Dalam catatan statistik, penguasaan bola Roma mencapai 68%. Adem Ljajic dkk. juga lebih agresif dengan melepaskan 19 upaya mencetak gol, tapi hanya empat yang berstatus on target. Bandingkan dengan Parma yang hanya melakukan lima kali percobaan dan tak ada yang mengarah ke gawang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Babak pertama jadi masalah hari ini, kami terlalu lambat. Kami menaikkan tempo di babak kedua dan untuk membongkar tim yang bertahan dengan 11 orang seperti Parma, Anda harus memecah kebuntuan," sahut Garcia seperti dikutip situs resmi klub.
"Kami punya 20 tembakan dan hanya empat yang tepat sasaran. Itu bukan cara mencetak gol dan itu adalah masalah Roma hari ini," imbuhnya.
Menghadapi Parma, Roma tak diperkuat oleh beberapa pemain pilarnya yang tidak fit. Miralem Pjanic bahkan dicoret dari tim hanya beberapa jam sebelum pertandingan karena terserang flu.
Meski demikian, Garcia tak mau menggunakan hal tersebut sebagai alibi. Menurutnya, menghadapi tim juru kunci dan bermain di kandang sendiri, Roma seharusnya bisa menang.
"Sayangnya kami bermain dengan para pemain yang tidak dalam kondisi 100% untuk berbagai alasan, dan kami juga memulangkan Pjanic," lanjut Garcia.
"Tidak ada alasan, kami tidak punya alasan hari ini. Tim hari ini seharusnya memenangi pertandingan, titik. Kami keliru. Kami harus menyebut kalau kami bermain seperti di babak kedua selama 90 menit, kami bisa menang. Kami hanya harus fokus ke hal ini dan lebih baik lagi," katanya.
Hasil ini membuat Roma gagal memangkas jarak dengan Juventus. Giallorossi ada di urutan kedua dengan 47 poin, tertinggal enam poin dari Juve yang baru akan bertanding melawan Cesena.
(nds/raw)











































