Sudah dua pertandingan tak bisa dilakoni Parma karena krisis keuangan dahsyat yang sedang menerpa mereka, yang membuat klub bersejarah ini bisa gulung tikar.
Pemberitaan Parma di ambang kebangkrutan terus berlangsung dalam beberapa minggu terakhir ini. Klub yang pernah menjadi juara Piala UEFA 1995 dan 1999 itu sudah begitu kepayahan untuk menghidupi dirinya sendiri, lantaran beban utang yang sudah sangat besar, antara 100-200 juta euro.
Klub ini sampai dua kali mendapatkan pemilik baru di musim ini, namun kondisi mereka sudah begitu menyedihkan. Parma kini menjadi potret klub yang sekarat, yang memunculkan sejumlah kisah yang menyedihkan, seperti di bawah ini:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Mereka tak bisa menggelar pertandingan kandang melawan Udinese pada pekan lalu. Sebab, mereka tak mampu membayar petugas keamanan dan hanya bisa membayar listrik seadanya.
- Pasokan listrik di markas latihan di Collecchio telah diputus. Akibatnya, para pemain tim junior, yang dilatih Hernan Crespo, harus mandi dengan air dingin karena mesin pemanas air tak berfungsi tanpa listrik.
- Mereka tak mampu membayar jasa cuci seragam. Akibatnya, para pemain harus membawa pulang pakaian kotor mereka dan dibersihkan sendiri.
- Presiden klub, Giampietro Manenti, sepertinya juga ikut-ikutan "bokek". Sebuah mobil miliknya ditahan pihak kepolisian karena dia belum membayar berbagai tilang yang nilainya mencapai 1.900 euro.
- Toko merchandise Parma di Stadion Ennio Tardini telah tutup. Barang-barang di ruang ganti, seperti kursi yang biasa diduduki pelatih Roberto Donadoni, printer, mesin cuci, disita untuk dilelang.
- Pekan ini Parma juga dipastikan tidak bisa bertanding melawan Genoa -- dan diminta dijadwalkan ulang. Alasannya, klub tak bisa membiayai perjalanan tim ke kota tim lawannya itu. Para pemain sebelumnya sempat menawarkan diri untuk berangkat sendiri-sendiri dengan kendaraan pribadi. (a2s/mfi)











































