Tempat Crespo Memang di Italia
Selasa, 15 Feb 2005 16:55 WIB
Jakarta - Hernan Crespo tidak butuh waktu lama untuk menemukan kembali ketajamannya bersama AC Milan. Padahal sebelumnya ia mesti bersusah payah sewaktu membela Chelsea.Musim lalu, setelah dibeli dari Inter Milan, Crespo tidak seperti striker istimewa sebagaimana ia pernah sekejap menjadi pemain termahal dunia di musim panas 2000 sebelum predikat itu direbut Luis Figo.Di Inggris, negara Eropa kedua yang pernah dijadikannya pelabuhan bersepakbola, kehebatan pria Argentina berusia 29 tahun itu tidak keluar maksimal. Selain karena sering dibekap cedera, Crespo mengaku kesulitan beradaptasi dengan kultur sepakbola negeri tersebut.Sebenarnya jika dirata-ratakan, rapor Crespo selama menghuni Stamford Bridge tidaklah buruk. Dari 19 kali tampil ia mampu mengemas 10 gol. Hanya saja buat penyerang sekaliber Crespo main 19 kali dalam satu musim jauh dari ideal. Itu sebabnya ia kemudian jarang dipanggil ke timnas Argentina."Aku memang tak bisa berasimilasi di sana. Perbedaan kultur di antara negara Anglo Saxon dan Italia terlalu besar. Gaya Italia lebih cocok buatku ketimbang Inggris, meskipun hal itu semestinya tak jadi masalah.""Cedera juga jadi kendala karena membuatku kehilangan irama meskipun aku cukup senang dengan rekor golku. Selalu didera cedera punya efek psikologis yang negatif," ungkapnya.Masalah lain yang dihadapi pria setinggi 184 cm itu adalah hambatan bahasa. Ia tidak piawai berbahasa Inggris sehingga ia sulit mengembangkan kehidupan sosialnya."Aku jadi merasa terpinggirkan dari sepakbola dan tak bisa menikmatinya. Tapi itu memang semata-mata kesalahanku. Kita tak boleh menjadikan perbedaan budaya sebagai alasan, walaupun hal itu juga tak bisa diremehkan."Saat ini Crespo sudah bisa enjoy lagi karena ia memang lebih cocok dengan kultur Italia. Bersama skuad Milan gol demi gol mulai lahir dari kedua kaki maupun kepalanya. Alumnus River Plate ini telah mengutip sembilan gol di level Seri A.Italia memang serasa rumah kedua buat Crespo. Karirnya bisa menjulang sejak diboyong dari Argentina oleh Parma di tahun 1996. Selama tujuh tahun di Negeri Pizza itu ia mampu mengukir 108 gol di Seri A atau rata-rata 15 gol per musim. Masa paling subur Crespo terjadi di musim 2000/2001 ketika ia menjadi topskor dengan 26 gol bersama Lazio. (a2s/)











































