Icardi jadi tumpuan Inter untuk meraih kesuksesan musim ini, setelah musim lalu tampil gemilang dengan torehan 22 gol yang membuatnya meraih gelar top skorer bersama Luca Toni.
Jabatan kapten yang diberikan Roberto Mancini kepada Icardi menunjukkan betapa pentingnya pemain Argentina itu untuk Nerazzurri. Ekspektasi untuk Icardi makin tinggi setelah Inter mendatangkan sejumlah pemain depan baru seperti Stevan Jovetic, Adem Ljajic, dan Ivan Perisic untuk membantu kerja Icardi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Icardi bahkan sudah puasa gol sejak terakhir kali membobol gawang Empoli pada 6 Januari lalu. Pada enam pertandingan terakhirnya di seluruh kompetisi, pemain 23 tahun itu melempem dan membuatnya kehilangan posisi starter dalam dua pertandingan terakhirnya.
Performa buruk Icardi dipuncaki dengan kegagalannya mencetak gol dari titik putih pada laga derby kontra AC Milan, Senin (1/2/2016) dinihari WIB tadi. Padalah saat itu Inter tengah tertinggal 0-1 dan punya momentum untuk menyamakan skor.
Tak lama setelah Icardi gagal penalti, Inter malah kebobolan dua gol beruntun yang membuat mereka kalah 0-3. Bersamaan dengan memburuknya performa Icardi, Inter pun hanya sekali menang dari lima pertandingan terakhir di Serie A.
Whoscored mencatat Icardi cuma punya rataan 1,8 attempts per laga, bukan catatan bagus tentunya untuk pemain yang berposisi penyerang utama di sebuah klub besar. Belakangan, Icardi pun juga senang membuang-buang peluang yang didapatnya termasuk saat Inter diimbangi Carpi pekan lalu.
"(Icardi dicadangkan) karena saya memutuskan memainkan Jovetic. Dia bisa jadi titik tumpu seranga dan membuat Eder bisa muncul dari belakang, di mana mereka melakukan itu selama 30 menit pertama," tutur Mancini seperti dikutip Football Italia.
"Kami mengubah formasi antara 4-2-3-1 dan 4-3-3, jadi tidak ada perbedaan besar. Mereka semua masih pemain yang sama saat memuncaki klasemen di sebagian besar paruh pertama musim dan tampil sangat baik," sambungnya.
(mrp/krs)











































