Capello Kembalikan Karakter Juventus

Review Seri A 2004/2005 (1)

Capello Kembalikan Karakter Juventus

- Sepakbola
Rabu, 01 Jun 2005 09:06 WIB
Jakarta - Juventus menutup musim ini dengan gelar Seri A ke-28 kalinya. Sukses ini tidak lepas dari tangan dingin seorang Fabio Capello yang membuat Juve kembali konsisten dan berkarakter. Capello membuat Si "Nyonya Tua" menjadi lebih bergairah. Pertahanan yang lebih disiplin dan terorganisir serta lini tengah yang kian kreatif amat menunjang lini depan yang diperkuat striker-striker kelas wahid. Keputusan Capello meninggalkan AS Roma dan menggantikan Marcello Lippi di Delle Alpi musim panas lalu sempat membuat publik sepakbola Italia terkejut. Namun kerja kerasnya berjalan dengan sempurna, baik buat karirnya sebagai pelatih maupun bagi Juventus. Capello melupakan masalah finansial manajemen klub dan juga problem pribadinya dengan pemain di Roma. Ia menikmati kembali organisasi sebuah klub yang baik dan professional seperti yang pernah dirasakannya di AC Milan dan Real Madrid. Kembalinya Capello ke klub kota Turin ini membuat Juve semakin tangguh. Aksi pertama Capello adalah membenahi lini belakang yang sempat menjadi kelemahan Juve saat ditangani Lippi, dan membuatnya lebih berkarakter. Ia memboyong bek Italia Fabio Cannavaro dan juga membawa pemainnya di Roma, Jonathan Zebina. Cannavaro yang sempat menurun performanya di Inter Milan kembali kekualitas sesungguhnya seperti yang pernah ia tunjukkan di Parma. Capello juga tidak salah pilih membawa Zebina ke Turin. Pasalnya, bek yang sempat mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari suporter Roma ini menjadi sosok yang cukup vital bersama Lilian Thuram dan Cannavaro di barisan belakang. Satu lagi pemain yang diboyong Capello dari Giallorrosi adalah Emerson. Pemain Brasil ini menambah kuat lini tengah Juve dalam membangun serangan. Sementara Pavel Nedved lebih bebas berkonsentrasi di sayap kiri dan Mauro Camoranesi di sayap kanan. Di lini depan Capello akhirnya mendapatkan pemain yang sudah diidam-idamkannya selama dua tahun di Roma. Dia adalah Zlatan Ibrahimovic yang diboyong oleh Juventus dengan transfer US$ 20,24 juta dari Ajax Amsterdam. Striker internasional Swedia telah menjaringkan 16 gol dan menjadi salah satu pemain kunci sukses Juventus musim ini. Zlatan juga mampu menutupi kekhawatiran lini depan Juve yang sering ditinggalkan David rezeguet yang langganan cedera. Namun sukses Juventus untuk merebut gelar Seri A ini tidaklah mudah karena mendapatkan persaingan super ketat dari rival utamanya, AC Milan. Di awal Februari Juve tampak bisa memastikan gelar setelah unggul delapan poin dari Rossoneri. Meski demikian, kekalahan beruntun dari Sampdoria dan Palermo, ditahan imbang Messina setelah sebelumnya menang atas Udinese membuat perolehan poin Juventus dapat disamakan oleh Milan dengan sisa empat pertandingan lagi. Itulah saat Juve tanpa Nedved dan konsentrasi mereka terpecah di Liga Champions. Perjuangan mereka di Liga Champions berakhir di babak perempatfinal setelah dikalahkan Liverpool kemudian tampil sebagai juara, sementara di Seri A mereka dikalahkan Inter Milan. Akan tetapi, karakter Juve mulai tampak. Lazio mereka tekuk 1-0 lewat gol tunggal Nedved, kemudian membungkam Milan 1-0. Tandukan kepala Trezeguet hasil umpan silang Alessandro Del Piero membungkam publik San Siro dan membuat Juve unggul tiga poin. Setelah itu, Milan ditahan imbang 2-2 oleh Lecce sementara gelar bagi Juve sudah di depan mata usai mengatasi Parma. Akhirnya hasil imbang 3-3 Milan dengan Palermo di San Siro memastikan gelar Seri A musim ini menjadi milik "Si Zebra". Pesta scudetto Juve semakin lengkap setelah menutup pertandingan terakhirnya dengan manis dengan mengalahkan Cagliari 4-2 di Delle Alpi. Itulah hasil kerja keras Capello mengembalikan karakter Juventus. (key/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads