Mancini Spesial Buat Inter

Mancini Spesial Buat Inter

- Sepakbola
Minggu, 20 Jan 2008 16:48 WIB
Mancini Spesial Buat Inter
Milan - Malam ini Roberto Mancini akan 200 kali duduk di kursi cadangan saat Inter Milan bertanding. Manajer muda Italia ini sudah menjadikan dirinya spesial untuk Gli Nerazzurri.

Karena Inter dikenal sebagai salah satu klub yang paling sering gonta-ganti pelatih, maka usia bertahan seorang pelatih di Giuseppe Meazza menjadi sebuah tolok ukur keberhasilan dia di sana. Dan Mancini adalah figur yang berhasil.

Dari catatan buku Inter, dalam 25 tahun terakhir, dari 23 nama yang pernah menjabat sebagai allenatore Inter, sebagian besar tak pernah bertahan lebih dari dua tahun. Hanya Giovanni Trapattoni (1986-1991) dan Mancini yang memiliki masa lebih lama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mancini direkrut pada 1 Juli 2004, mengisi tempat yang ditinggalkan Alberto Zaccheroni. Faktanya, hingga kini pria kelahiran 27 November 1964 itu masih mengenakan stelan jas berlogo Inter di dadanya.

Prestasi itu tak mungkin tercapai jika Mancini dinilai tidak berprestasi oleh pihak klub. Dan Mancini memang berprestasi hebat. Ia telah menyumbangkan dua tropi Coppa Italia, dua Piala Super Italia, dan dua titel Scudetto Seri A. Maka dialah pelatih tersukses Inter dalam 10 tahun terakhir.

Seperti tak terasa, nanti malam, Minggu (20/1/2008), Mancini akan melakoni pertandingan ke-200 bersama Inter. Ia pun memiliki perasaan tertentu tentang capaiannya itu sendiri.

"Seperti sebuah mukjizat… dan ini membuktikan bahwa mukjizat itu memang ada," seloroh dia seperti dikutip Channel4.

"Jujur saja, dulu saya termasuk pemain yang dewasa sebelum waktunya. Saya memulainya saat masih muda. Dan sekarang saya juga mulai melatih terlalu cepat."

Mancini sudah bermain di level profesional dalam usia 17 tahun bersama Bologna. Sampai ia gantung sepatu di tahun 2001, ia hanya bermain untuk empat klub. Ia paling setia dengan Sampdoria (15 tahun) sebelum menjajal Lazio (1997-2000), dan sempat bermain enam bulan di Leicester City.

Di musim terakhir di Lazio ia merangkap pekerjaan sebagai pemain dan asisten pelatih (Sven Goran Eriksson). Fungsi pelatih penuh baru ia lakoni di musim 2001-2002 saat dipercaya Fiorentina, sebelum digaet Inter.

"Saya ingat pertandingan pertamaku bersama Inter, yang bahkan bukan laga resmi. Jadi, semestinya itu tidak dihitung untuk angka 200. Itu friendly game di Brunico melawan klub lokal saat latihan pra-musim," kenang mantan striker timnas Italia itu, yang pernah dikenal sebagai duet maut Gianluca Vialli.

"Untuk seorang pelatih, duduk di bench Inter adalah sebuah kehormatan, dan sesuatu yang tidak semua orang bisa bernasib baik mendapatkan pengalaman itu. bahkan partai tak resmi pertamaku dengan klub ini pun sebuah momen istimewa yang masih sangat lekat pada diri saya."

Inter malam ini akan bertanding melawan Parma di kandang sendiri. Sejauh ini Inter belum terkalahkan di Seri A sehingga digadang-gadang berpeluang besar untuk mengukir hat-trick juara tiga musim berturut-turut.

(a2s/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads