Musim panas 2004, Mancio --sapaan akrabnya-- masuk ke Giuseppe Meazza. Meski saat itu berstatus sebagai tim besar Seri A dan memiliki sederet pemain bintang, Inter sudah lama berpuasa gelar dan lebih sering jadi tim nyaris juara.
Sebelum ditangani Mancio, kali terakhir La Beneamata juara Seri A adalah pada 1988-89. Setelah itu mereka sempat tiga kali jadi runner-up, yakni pada 1992-93, 1997-98 dan 2002-03. Di Coppa Italia malah lebih jauh lagi karena mereka juara pada tahun 1981-82, dan hanya jadi juara dua pada 1999-00. Di Eropa sedikit lebih baik dengan menjuarai Piala UEFA pada tahun 1990-91, 1993-94 dan 1997-98, kendati sudah lama berselang sejak mereka menjadi jawara Liga Champions, yakni pada 1963-64 dan 1964-65, di mana saat itu masih menggunakan format lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku tak membuang waktu dengan bertanya kepada diri sendiri apa yang salah dan langsung mulai bekerja untuk mencoba memahami apa yang telah terjadi. Banyak hal yang tidak berfungsi di dalam dan luar lapangan. Itu adalah misi buatku. Takkan menantang jika menangani tim yang sudah biasa menang," lanjut allenatore Italia tersebut.
Hasilnya, dalam dua musim Nerazzuri dibawanya meraih dua Copa Italia (2005 dan 2006), dua Supercoppa Italiana (2005 dan 2006) dan dua Scudetto (2005-06 dan 2006-07). Meski belum mampu bicara di Eropa, Mancio tetap jadi pelatih tersukses Inter selama sepuluh tahun terakhir. "Perkembangan ini adalah hasil kerja kerasku dibantu dengan bantuan semua pihak. Para pemain telah mengubah arah tujuan dan paham mereka perlu unjuk gigi jika serius ingin menang."
Akan tetapi bak ungkapan semakin tinggi sebuah pohon semakin kuat pula angin menerpanya, Inter kini sedang diterpa angin kencang berupa adanya tudingan bias kepemimpinan wasit. Sang pengadil lapangan dicibir kerap menguntungkan Javier Zanetti cs.
"Orang di Italia hidup untuk perdebatan semacam ini. Banyak orang yang merelakan waktu untuk mengamati video (tayangan ulang pertandingan) dan kemudian menciptakan kericuhan. Itu tak berguna untuk siapapun karena mereka tak berhubungan dengan kenyataan. Kamera-kamera tak berguna buat wasit. Aku biasa menyaksikan semua highlight di TV, tapi selama sepuluh tahun terakhir aku tak pernah menyaksikan siaran sepakbola karena mereka membuatku jijik," ketus Mancio.
Terlepas dari kontroversi yang masih terus bergulir, Mancio tetap jadi sosok penting bagi Inter yang kini dibawanya jadi sebuah tim tangguh yang mampu mendominasi salah satu kompetisi elit di dunia sepakbola, Seri A. Untuk keberhasilannya, pria 43 tahun tersebut punya sosok lain yang dinilainya sudah memberikan bekal berharga buat dirinya.
"Vujadin Boskov dan Sven Goran Eriksson mengajarkanku untuk jadi seorang optimis dan tumbuh di hadapan kesulitan. Itu adalah kepribadian penting buat seorang pelatih," tandas Mancio.
(krs/arp)










































