'Mari Duduk Bersama'

Jelang Fiorentina vs Juventus

'Mari Duduk Bersama'

- Sepakbola
Minggu, 31 Agu 2008 12:24 WIB
Mari Duduk Bersama
Florence - Musim baru sudah dimulai. Jika sebuah hubungan buruk bisa diperbaiki, itu tentu lebih bagus. Dengan kedua bos duduk berdampingan, pesan perdamaian buat fans Fiorentina dan Juventus coba disampaikan.

Secara tradisi musuh utama Juventus ada dua: Inter Milan dan Torino. Dengan Inter pertemuan mereka sampai disebut sebagai Derby d'Italia alias derby-nya Italia. Sedangkan Torino, tentu saja mereka adalah rival sekota -- disebut Derby della Mole.

Fiorentina pun punya rival, salah satunya dengan Empoli. Tapi rivalitas tersebut tidak terlalu kuat, lebih didasari alasan geografis -- Empoli hanya sekitar 20 km dari kota Florence).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juventus dan Fiorentina menjadi seteru terutama sejak awal 1980-an. Menurut catatan, tifosi Fiorentina mulai sebal pada "Si Nyonya Tua" terkait kontroversi di akhir musim 1981/1982. Juventus memenangi partai terakhirnya melawan Cagliari lewat sebuah gol penalti, yang oleh kubu La Viola dipercaya 'tidak ada'. Dari hasil itu Fiorentina harus menjadi runner up, terpaut satu angka saja.

Sejak itu konon fans Fiorentina memandang Juventus sebagai derby utama mereka. Puncaknya adalah ketika otoritas kota Florence, setelah mendapat persetujuan dari kementerian dalam negeri Italia, demi alasan keamanan melarang fans Juventus menonton duel kedua tim di Stadio Artemio Franchi pada 7 Oktober 2007.

Kini larangan tersebut telah dicabut. Sebagai bentuk penyambutan, pemilik Fiorentina Diego Della Valle telah mengundang presiden Juventus, Givanni Cobolli Gigli, untuk duduk berdampingan dengannya di dalam stadion buat pertandingan pertama mereka nanti malam, Minggu (31/8/2008).

"Fiorentina akan meniru sistem yang dipakai di Spanyol, di mana kedua presiden duduk bersebelahan di saat pertandingan, dan makan malam bersama setelah itu. Ide ini akan sangat baik untuk sepakbola Italia," tutur Della Valle kepada Gazzetta dello Sport.

Tidak hanya itu, Fiorentina adalah juga pelopor di musim lalu saat memberlakukan 'Terzo Tempo atau 'Babak Ketiga', di mana tim tuan rumah menunggu bersalaman dengan tim tamu setelah peluit panjang berbunyi.

"Di lapangan kita harus selalu memiliki agresi terkait olahraga, dan kami ingin terus mengalahkan Juventus sampai 3.000 tahun ke depan. Tapi jangan lupa, kita membicarakan sebuah pertandingan sepakbola di sini," imbuh pengusaha sepatu dan kulit itu, yang membeli Fiorentina di tahun 2002 setelah mengalami kebangkrutan. (a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads