Rivalitas Barca kontra Madrid tentu sudah mendarah daging dalam diri Guardiola. Selama lebih dari satu dekade, pria kelahiran 18 Januari 1971 itu bermain untuk Azulgrana. Selama itu pula pria asli Catalan tersebut merasakan seperti apa panasnya duel El Clasico.
Setelah pensiun sebagai pemain, Guardiola melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Barcelona adalah tim yang ditukanginya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kali ini, meski hanya satu trofi namun itu sudah cukup untuk "menampar" pasukan berharga triliunan rupiah milik Madrid yang kembali tidak mengukir prestasi apa-apa.
Meski dua musim berturut-turut berhasil mempermalukan sang rival, namun Guardiola tidak bersikap emosional. Sebuah simpati ia tujukan kepada tim ibukota Spanyol tersebut.
"Saya juga sangat menghormati atas pencapaian Real Madrid selama ini. Mereka (musim ini) gagal juara hanya karena ada tim lain yang lebih baik dari mereka," kata Guardiola pasca membawa Barca menjadi juara La Liga, Senin (17/5/2010) dinihari WIB.
"Kami hanya kalah sekali di musim ini, dan ini semua kuncinya terletak pada kerja keras dan pemain-pemain rendah hati yang kami miliki," tuntas Pep seperti dikutip dari Reuters.
(nar/mrp)











































