Sejak ditangani Martino, Barca memang tak lagi terlalu memaksakan gaya bermain umpan-umpan pendek. Mereka kerap pula mengombinasikannya dengan umpan-umpan panjang dari lini belakang kala tertekan ataupun untuk melakukan serangan balik.
Hal ini berbeda dengan gaya Barca di periode-periode sebelumnya, baik di bawah tangan Pep Guardiola maupun Tito Vilanova. Pada masa dua pelatih ini tim Catalan tersebut berusaha selalu melakukan umpan pendek meski ditekan oleh lawan sekalipun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka meski meraih angka penuh, Barca tetap dipertanyakan. Los Cules dinilai telah berubah karakter dan Martino dianggap paling bertanggung jawab soal ini.
"Saya tidak merasa terganggu dengan perdebatan soal gaya bermain. Untuk sebuah tim yang meraih kesempurnaan, akan selalu ada diskusi tentang situasi ini, terlebih lagi jika pelatihnya bukan dari dalam klub atau orang Belanda," kata Martino seperti dikutip Football Espana. Belanda yang dimaksud Martino merujuk pada Johan Cruyff yang menanamkan fondasi tiki-taka.
"Perhatian saya adalah pada bagaimana keadaan dari para pemain. Mereka terlihat solid dan rileks, itu memberikan saya kedamaian pikiran," imbuh pelatih 50 tahun ini.
"Possesion adalah sesuatu yang signifikan bagi tim. Untuk Barcelona itu sangat penting, tapi Anda juga harus melihat karakteristik lawan, latar belakangnya, dan pelatihnya.
"Musim lalu penguasaan bola melawan Vallecano sebanyak 55%, dan itu juga bukan hal biasa untuk Barca (pada saat itu mencatatkan possesion rata-rata di atas 60%). Vallecano musim lalu adalah kedua tertinggi di liga dalam hal possesion, Anda harus menganalisis segalanya. Dimensi lapangan kemarin lebih menguntungkan mereka. Jadi, tak masalah kalah penguasaan," ujar pria asal Argentina tersebut.
(raw/a2s)











































