Dua gol De La Pena sukses mempermalukan Barca di Nou Camp, Minggu (22/2/2009) dinihari WIB. Karena Barca hanya bisa membalas lewat satu gol Yaya Toure, maka jadilah Espanyol unggul 2-1.
Kemenangan Espanyol itu boleh dibilang sangat mengejutkan. Pertama adalah mengingat posisi kedua tim yang bagaikan langit dan bumi. Barca kokoh di peringat teratas La Liga, sedangkan Espanyol terpuruk di posisi terbawah. Sebelum pertandingan, selisih poin keduanya adalah 42.
Berikutnya adalah faktor tempat di mana pertandingan itu berlangsung. Nou Camp adalah stadion yang angker bagi siapapun lawan Barca. Real Madrid yang selalu jadi rival utama Los Azulgrana saja keluar dari sana dengan mengantongi kekalahan 0-2. Ini adalah kemenangan pertama Espanyol di sana dalam tempo 27 tahun terakhir.
Kekalahan di tangan Espanyol adalah kekalahan kedua yang diderita Barca musim ini. Kekalahan perdana diderita pasukan Josep Guardiola di jornada pembuka La Liga di tangan Numancia.
Artinya, sudah 22 laga Blaugrana mencatat hasil tak terkalahkan; dengan 19 di antara disudahi dengan hasil menang. Catatan gol mereka pun menakutkan. Barca baru kebobolan 18 gol (sebelum melawan Espanyol) dan sudah melesakkan 70 gol ke gawang lawan.
Aktor di balik berantakannya semua prediksi dan rontoknya rekor-rekor Barca adalah De La Pena. Ironisnya (atau malah hebatnya?), De La Pena adalah pemain yang mencuat dari akademi sepakbola klub Catalan itu sendiri.
De La Pena memang dibesarkan oleh Barca. Gelandang/penyerang kelahiran 6 Mei 1976 itu bergabung dengan Barcelona B di tahun 1993 dan dua tahun kemudian debut di tim utama Barca ia dapatkan.
Di Barca, karir De La Pena bergerak dalam grafik naik turun seiring bergantinya posisi pelatih kepala di sana. Akhirnya, tahun 1998, pemain dengan ciri khas kepala plontos itu meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Italia bersama Lazio.
Dengan karir yang tak bisa dibilang cemerlang dan sempat dipinjamkan ke dua klub berbeda, De La Pena lalu kembali ke kota Barcelona, bergabung dengan rival sekota Barca, Espanyol, pada tahun 2002.
Dua gol De La Pena ke gawang mantan majikannya Minggu malam bagai membuktikan bahwa dirinya belum habis. Dengan heroik, Si Buddha Kecil --julukannya-- membawa Espanyol Si Daud memukul Barcelona Si Goliath.
Tetapi Espanyol dan De La Pena tak boleh berhenti di sana. Jangan sampai rasa mabuk dengan kemenangan atas Barca membuat juara Copa del Rey 2006 dan finalis Piala UEFA 2007 itu melupakan misi utama mereka yakni selamat dari lubang hitam degradasi.
Espanyol masih di zona merah meski berhasil naik satu strip ke peringkat 19. Pasukan asuhan Maurico Pocchettino itu kini berselisih tiga poin dari keselamatan dan mereka membutuhkan lagi heroisme dari seorang De La Pena.
(arp/a2s)










































