Tak salah jika publik Brasil - dan bahkan seluruh dunia - lebih sering membicarakan Neymar saat membahas peluang tuan rumah jadi juara di Piala Dunia 2014. Pesepakbola muda itu memang luar biasa, dia punya bakat hebat yang bisa mengantarnya jadi pemain terbaik dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Tapi sukses Brasil dan Luis Felipe Scolari memaksimalkan bakat-bakat hebat yang dipunya pemainnya di lini depan adalah karena dasar kuat yang dipunya di lini belakang. Dan pusat kekuatan pertahanan Brasil ada pada Thiago Silva.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan Dani Alves dan Marcello di posisi bek sayap bakal sering naik membantu serengan, Silva sebenarnya harus berbagi peran dengan David Luiz di sentral pertahanan. Tapi karena Luiz juga punya kebiasaan membantu serangan, maka hanya Silva seorang yang bakal jadi tumpuan.
Beberapa pengamat menyebut Brasil masih akan bisa 'hidup' meski tanpa Neymar, karena faktanya mereka masih punya Hulk atau Fred dan Jo yang bisa diandalkan dalam urusan mencetak gol. Tapi jika Silva hilang dari starting line up, Brasil akan terlihat rapuh. Ada Dante (Bayern Munich) dan Henrique (Napoli) menjadi pelapis, tapi keduanya tak punya level kualitas yang sama dengan Silva.
Keberhasilan Brasil menjuarai Piala Konfederasi dan melalui tiga laga tanpa kebobolan adalah kontribusi terbesar Silva buat negaranya hingga kini. Dengan kini berusia 29 tahun dan tengah berada di puncak performa bersama Paris Saint Germain, Silva berada di momen paling tepat untuk memberi trofi Piala Dunia buat negaranya.
Silva juga menjadi salah satu pemain dengan jam terbang paling banyak di kompetisi papan atas. Empat tahun memperkuat AC Milan dia lantas bergabung dengan Paris Saint Germain, dengan kontrak yang menjadikannya pemain bertahan termahal di dunia (37 juta poundsterling).
"Saya punya tanggung jawab yang besar untuk klub dan negara tapi itu tidak membuat saya takut. Adalah sebuah kehormatan untuk menjadi pesepakbola dan banyak orang yang tak punya kesempatan untuk mewujudkannya. Saya tahu bagaimana rasanya memikirkan karier Anda berakhir," jadi saya menghargai kesempatan kedua yang diberikan pada saya," ucap Silva terkait dirinya yang menderita TBC di awal karier dan nyaris memutuskan untuk pensiun dini.
Dari catatan Squawka, musim lalu Silva punya statistik yang sangat baik. Dia tak pernah membuat kesalahan dalam bertahan (0), dan punya prosentase kemenangan duel udara sebesar 73%. Sementara tekel berhasilnya sebesar 64%, serta tingkat keberhasilan merebut bola dari kaki lawan sebesar 89%.
Thiago Silva adalah penerus dari generasi bek-bek tangguh Brasil, yang sebelumnya memiliki Aldair dan Lucio. Di rumahnya sendiri tahun ini, Silva juga diharapkan bisa jadi penerus Dunga dan Cafu, yang pada 1994 dan 2002 menjadi kapten dan mengantar Brasil jadi juara dunia.
(din/mfi)











































