Sepakbola kerap kali adalah panggung lelakon yang dramatis. Di Estadio Castelao, Rabu (25/6/2014) dinihari WIB tadi, Georgios Samaras sempurna memerankan tokoh protagonis dan mengubah nasib Yunani.
Di luar Kolombia yang sudah memastikan diri lolos, Yunani menatap laga terakhir Grup C dalam posisi yang paling tak ideal dibandingkan dua rivalnya. Pantai Gading punya kesempatan paling besar mendampingi Kolombia berbekal nilai tiga. Sementara Jepang kendati sama-sama punya satu poin dengan Yunani, namun masih unggul selisih gol.
Jadilah laga kontra Pantai Gading tantangan yang amat besar untuk Yunani. Agar lolos, mereka harus menang dengan skor setelak mungkin atau boleh saja menang tipis tapi dengan catatan Jepang tak meraih angka penuh. Makin berat jika melihat fakta bahwa Yunani tak berhasil mencetak gol di dua laga sebelumnya dan sudah kebobolan tiga kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi gol tersebut juga menyengat Pantai Gading. Kalah pantang hukumnya bagi anak asuh Sabri Lamouchi demi kelolosan. Di menit ke-74, sontekan Wilfried Bony menyamakan kedudukan.
Situasi kembali sulit untuk Yunani, namun ini tak lantas membuat mereka menyerah karena di partai lain Jepang tengah tertinggal dari Kolombia. Satu gol saja bisa membalikkan situasi mereka.
Upaya demi upaya dilancarkan, setidaknya tiga kali di antaranya mentah oleh tiang gawang, hingga pada prosesnya kedudukan seperti tampak tak bisa diubah lagi: waktu normal habis dan masa injury time berjalan.
Tapi entah doa apa yang dikirimkan publik Yunani untuk para dewa mereka, momen keajaiban itu datang pada akhirnya. Samaras dilanggar di kotak terlarang oleh Giovanni Sio, wasit tanpa ragu memberikan penalti.
Samaras lantas maju sebagai eksekutor. Bebannya tentu tak ringan mengingat penalti ini akan menentukan perjalanan Yunani berikutnya, pulang atau lanjut. Tahu akan beban tersebut, kiper Pantai Gading Boubacar Barry melakukan gestur-gestur provokatif untuk mengganggu konsentrasi Samaras.
Tak mempan. Pemain 29 tahun itu sukses mengonversi penalti jadi gol. Yunani memastikan diri menang dan lolos ke babak 16 besar sebagai runner up karena di laga lain Jepang kalah 1-4 dari Kolombia.
Dramatis. Samaras jadi pahlawan. Satu assist dan satu gol membuatnya secara statistik jadi pahlawan tunggal kemenangan Yunani.
Istimewanya, gol penalti tersebut adalah tendangan on target pertama Samaras di turnamen ini. Opta mencatat demikian, di mana penyerang Celtic itu telah melalui 270 menit plus masa-masa injury time, sebelum akhirnya bisa mencatatkan satu tendangan on target dari titik putih. Satu eksekusi yang mengubah nasib negaranya.
Tapi Samaras pribadi lebih suka menyebut kemenangan ini sebagai usaha bersama seluruh skuat Yunani. Kebanggaan baginya, bisa mempersembahkan sebuah 'prestasi' untuk publik tanah air.
"Saya pikir kami mengontrol di sebagian besar pertandingan ini. Kami mencetak sebuah gol dan membentur tiang beberapa kali. Kami mencoba untuk menang di 15 menit terakhir karena kami tahu kami harus menang untuk ke babak berikutnya," kata Samaras dikutip BBC.
"Kami mengerahkan segala yang kami punya, kami benar-benar bangga dengan raihan kami. Saya bangga dengan tim ini dan saya harap kami memberikan sebuah senyuman untuk orang-orang di negara kami," tandasnya.
(raw/din)











































