Evan Dimas, Seandainya...

- Sepakbola
Sabtu, 29 Nov 2014 00:23 WIB
detikSport/Mercy Raya
Hanoi - Ketika kegagalan sudah didapat, yang tersisa memang hanya pengandaian dan pertanyaan soal "apa jadinya?". Untuk kegagalan Indonesia kali ini, perngandaian itu berbunyi: "Seandainya Evan Dimas dimainkan sedari awal."

Layaknya Boaz Solossa yang mengejutkan ketika masih berusia 18 tahun dulu, Evan memang menjadi salah satu penemuan penting dalam sepakbola Indonesia. Namanya sudah tenar ketika menjadi kapten tim nasional Indonesia U-19.

Kemampuan passing-nya yang mumpuni, pergerakannya di lini tengah bagus, dan seperti yang dikatakan oleh eks pelatih timnas U-19, Indra Sjafri, Evan --seperti halnya pemain-pemain U-19 seangkatannya-- punya stamina yang bagus.

Oleh karenanya, tidak mengherankan pemuda bernama lengkap Evan Dimas Darmono itu dipanggil oleh Alfred Riedl untuk memperkuat tim nasional senior di Piala AFF 2014. Riedl menyebut, Evan tidak hanya punya kemampuan mengolah bola yang bagus, tetapi juga punya kecerdasan tinggi.

Setelah mencetak satu gol ke gawang Timor Leste, Evan diharapkan untuk langsung terjun di turnamen pertamanya dengan timnas senior. Namun, Riedl memilih untuk menunda debut Evan di turnamen besar pertamanya dengan timnas senior.

Setelah Indonesia bermain imbang 2-2 melawan Vietnam dan kalah 0-4 dari Filipina di dua laga pertama --dengan kombinasi gelandang tengah yang berbeda di starting XI-- barulah Riedl memainkan Evan pada laga terakhir melawan Laos, Jumat (28/11/2014).

Hasilnya? Kendati secara kasat mata kualitas Laos berada di bawah Vietnam dan Filipina, Evan tampil relatif bagus. Tolok ukurnya adalah raihan satu gol dan satu assist. Dia juga membuat satu operan kunci untuk gol Ramdani Lestaluhu.

Evan mencetak gol setelah menerima sodoran Cristian Gonzales yang berada di dalam kotak pada menit kedelapan. Dengan tenang, Evan mengecoh satu orang pemain Laos dan melepaskan sepakan kaki kiri terarah ke sudut atas gawang lawan. Indonesia unggul 1-0 berkat gol itu.

Berikutnya, pada menit ke-50, Evan memberi assist. Evan menggiring bola dan merangsek sampai ke dalam kotak penalti Laos, sebelum akhirnya melepaskan umpan datar. Umpan tersebut kemudian disambar oleh Ramdani Lestaluhu di sisi tiang jauh. Indonesia unggul 3-1 berkat gol tersebut.

Kepiawaian Evan dalam membagi operan pada laga itu juga tidak terbantahkan. Dalam catatan situs resmi Piala AFF, Evan mencatat 31 passing di babak pertama dengan tingkat akurasi mencapai 90,32% di babak pertama laga.

Tak heran, dengan taktik memainkan bola-bola pendek yang diterapkan Riedl pada laga melawan Laos, Evan memang seperti mendapatkan makanan empuknya. Ini berbeda dengan laga melawan Filipina. Ketika itu Riedl memilih untuk memainkan bola-bola panjang yang dilepaskan dari tengah.

Kala itu, Riedl berlasan bahwa kondisi fisik para pemainnya tidak cukup bugar. Padahal, untuk memainkan bola-bola pendek dibutuhkan stamina bagus --tidak hanya untuk memberikan operan, tetapi juga kemampuan bergerak mencari ruang untuk menerima operan.

(roz/cas)