Alan Shearer, Jemu yang Mempesona

Alan Shearer, Jemu yang Mempesona

- Sepakbola
Selasa, 25 Apr 2006 06:27 WIB
Alan Shearer, Jemu yang Mempesona
London - Salah satu kualitas manusia untuk menjadikan dirinya bintang dibidangnya adalah kemampuan manusia untuk menggugah kontroversi.Masa rupanya hanya tergerak untuk bertindak atau mengekspresikan opini ketika tergelitik oleh persona yang kontroversial. Catatan sejarah umat manusia kaya dengan catatan seperti ini.Sekali atau dua kali mungkin muncul persona atau figur yang menjadi bintang tanpa mempunyai muatan kontroversi pada dirinya. Tetapi itu jarang sekali terjadi.Di jagad persepakbolaan, dalam skala yang lebih kecil persepakbolaan Inggris, terselip di antara nama-nama kontroversial seperti misalnya Wayne Rooney, David Beckham, Thiery Henry, Roy Keane, Steven Gerrad, adalah Alan Shearer.Shearer sama sekali bukan figur kontroversial. Publik sepakbola Inggris sering menjulukinya sebagai boring Shearer, Shearer yang menjemukan. Setiap kali diwawancarai tak pernah ada pernyataan yang menggigit, sepertinya jawaban Shearer sudah bisa ditebak dengan derajat keakuratan mendekati 100 persen.Kalaupun ia memberikan jawaban yang di luar dugaan, yang keluar adalah pernyataan yang sama sekali tidak menarik, boring, menjemukan, atau mungkin menggelikan.Di puncak kegembiraan ketika memenangkan liga utama Inggris bersama Blackburn Rovers tahun 1995, Shearer mengatakan akan merayakannya dengan mengecat pagar rumahnya. Sampai sekarang publik sepakbola Inggris masih terpingkal-pingkal setiap mengingat wawancara itu.Sebagai komentator di TV informasi yang diberikannya keluar datar, layaknya ada tidak menambahi, hilang tidak mengurangi. Kalau ia mulai bicara, seperti komando bagi penonton TV untuk beristirahat sejenak entah membuat minum, merokok atau ke toilet.Kehidupan pribadinya juga tidak pernah mengundang ketertarikan publik. Layaknya air mengalir, tidak ada skandal, tidak ada mobil mewah berlebihan, tidak ada rumah bak istana.Sebagai striker setiap kali mencetak gol, ekpresi kegembiraan yang ia luapkan juga ajeg. Berlari, mengangkat tangan kanannya, dan tersenyum lebar. Itu saja. Tak ada jumpalitan spektakuler. Tak ada copot kaos. Tak ada teriakan berlebihan. Tak ada gulung-gulung. Tak ada arogansi. "What's the point?" katanya.Tetapi sebagai striker, catatan gol Shearer tak ada duanya. Dialah yang oleh penggemar bola sepakbola Inggris dianggap sebagai striker klasik khas Inggris. Skil yang memadai, kuat bertenaga seperti bulldozer, tendangan yang keras, sundulan yang hebat, siap menghadapi hadangan fisik yang seperti apapun.Orang Eropa menyebutnya kasar dan keras. Tetapi orang Inggris tidak setuju, mereka menyebutnya physical. Hal yang lumrah dalam persepakbolaan Inggris.Catatan gol yang ia buat menggambarkan itu semua. Ia mencetak 409 gol selama karirnya di divisi utama Inggris. Terbanyak untuk pemain profesional Inggris. Pemegang rekor pencetak gol terbanyak Newcastle dengan 206 gol. Mencetak 30 gol buat Inggris dalam 63 penampilannya. Dengan catatan seperti itu Shearer sebetulnya layak mengundurkan diri dengan perayaan, pesta atau pentas yang sesuai dengan gelimang karirnya. Tetapi nasib Shearer adalah cerminan wataknya yang sekali lagi menurut publik Inggris menjemukan. Pertandingan terakhir Shearer adalah ketika melawan Sunderland, sebuah klub yang sudah pasti terdegradasi. Sebuah pertandingan yang sudah tidak menentukan baik buat Newcastle ataupun Sunderland. Bukan sebuah pertandingan spektakuler seperti final Piala Champions, Piala Eropa atau Piala Dunia atau sebuah pertandingan yang menentukan. Lebih parah lagi ia mengalami cedera dalam pertandingan itu. Padahal ia ingin sekali menyelesaikan liga utama Inggris yang tinggal tiga pertandingan lagi.Sekali lagi watak Shearer. Ia mengaku tidak menyesal dengan akhir karirnya yang seperti itu. Seperti juga ia mengaku tidak menyesal untuk memutuskan dua kali menolak bergabung dengan Manchester United dan memilih bergabung dengan Blackburn dan Newcastle. Sehingga catatan karirnya hanya bisa ditunjukkan dengan satu medali juara liga utama tahun 1995 bersama Blackburn. Sepuluh tahun terakhir masa karirnya untuk Newcastle yang sangat dicintainya, tetapi tak membuahkan hasil.Shearer mungkin memang menjemukan, tetapi jemu yang mempesona. Ia toh beruntung, bisa memilih melakukan apa yang diinginkan apapun konsekuensinya. Dan sepakbola Inggris telah kehilangan salah satu bintangnya. (lom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads