"Apa pekerjaan saya selanjutnya? Pelatih tim nasional. Tim itu haruslah tangguh, sebuah tim yang punya kelas tersendiri. Apakah saya akan mempertimbangkan Inggris atau Spanyol? Siapa tahu. Mereka tim yang bagus," ungkap Capello beberapa hari setelah dipecat untuk kali kedua oleh Real Madrid, Juni lalu.
Setelah rentetan sukses yang diraihnya bersama beberapa klub berbeda, Capello sepertinya merasa sudah saatnya mencari tantangan dan kesuksesan di kelas yang berbeda. Meski belum ada kesepakatan resmi, kesempatan itu akhirnya benar-benar datang setelah FA menunjuknya melatih The Three Lions.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah mencatat tahun 1991 sebagai debutnya menjadi allenatore, tapi Capello sudah membuktikan dirinya memiliki bakat menjadi pelatih besar lima tahun sebelumnya. Mungkin sedikit yang tahu kalau di akhir musim 1986-1987 dia sempat menukangi AC Milan sebagai caretaker menggantikan Nils Liedholm.
Menjadi pelatih di enam pertandingan terakhir Rossoneri musim itu, Capello membawa mantan klubnya lolos ke kualifikasi Piala UEFA. Setelah itu dia bekerja sebagai manajer di Mediolanum, sebuah usaha bisnis milik Silvio Berlusconi yang terdiri dari klub sepakbola, voli, rugby dan hoki es.
Mediolanum-lah yang kemudian menjadi ajang Capello menempa diri sebelum akhirnya ditunjuk menggantikan Arrigo Sachi di Milan tahun 1991. Dari situlah pria kelahiran 1946 itu merentas kisah suksesnya sebagai pelatih.
Lima tahun di San Siro, Milan dibawanya menjadi klub paling menakutkan di Italia dan Eropa dengan meraih empat titel Seri A, tiga gelar Copa Italia, dan satu tropi Liga Champions.
Petualangannya berlanjut dengan memberi satu gelar La Liga pada Madrid di musim 1996/1997. Setahun di Spanyol dia memutuskan kembali ke Milan, sayang di episode kedua masa kepelatihan bersama Diavolo Rosso itu berakhir jauh dari memuaskan karena Milan bobrok di Seri A.
Dianggap gagal, Capello pun dipecat. Tapi dia tak kehilangan peminat karena AS Roma langsung mempekerjakannya. Di sanalah Capello meraih scudetto kelimanya sebagai pelatih setelah mengantar Il Luppo duduk di puncak klasemen akhir musim 2000-2001.
Sentuhan tangan emas Capello berlanjut saat membesut Juventus. Sayang, dua gelar juara Seri A yang diberikannya pada "Si Nyonya Besar" terpaksa dicoret karena keterlibatan Juve dengan skandal calciopoli.
Saat memutuskan kembali ke Spanyol, Capello kembali membuktikan kehebatannya. Meski akhirnya dipecat walau baru setahun melatih, Don Fabio memberi Los Blancos tropi juara La Liga yang juga mengakhiri puasa gelar mereka.
Jelas ada perbedaan antara melatih klub dengan membesut timnas. Apalagi yang akan dilatih Capello adalah Inggris, tim yang tak kunjung berprestasi namun punya ekspektasi -- dan gengsi -- yang sangat tinggi .
Di negerinya Ratu Elizabeth itu, Capello akan menemukan sesuatu yang mungkin belum pernah dia hadapi sebelumnya. Tekanan media Inggris yang terkenal sadis akan menjadi masalah lain yang harus dihadapi mantan gelandang internasional Italia itu.
Tapi Capello tetaplah Capello, salah satu pelatih paling sukses di dunia dengan sentuhan emasnya. Dan publik sepakbola Inggris kini tengah menunggu tim nasionalnya berkilau terang -- layaknya emas -- di kancah internasional. (din/ian)











































