Gerard Pique, yang mencetak satu gol bunuh diri di menit ke-72, pun sampai mengatakan bahwa ini adalah momen terburuk selama kariernya. Sementara Lionel Messi, yang dijadikan tumpuan Blaugrana untuk membalikkan keadaan, terpaksa hanya menyaksikan peristiwa ini dari pinggir lapangan. Ia telah kalah terlebih dulu melawan cedera hamstring yang memaksanya hanya duduk di bangku cadangan.
Walau pertandingan berlangsung selama 90 menit, nyatanya pertarungan di lapangan telah selesai di menit ke-48. Saat Arjen Robben bergerak menusuk ke dalam kotak penalti dan melesakkan gol melalui tendangan kerasnya, hampir seluruh yang menyaksikan pertandingan tahu bahwa peluang Barcelona untuk lolos telah tertutup rapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu apakah yang terjadi dalam 48 menit tersebut? Mengapa tak sekalipun Barcelona bisa memasukkan bola ke gawang Neuer padahal Tito menargetkan unggul 2-0 saat half time?
Komposisi Pemain
Kedua tim bermain dengan formasi andalannya, yaitu Barcelona dengan 4-3-3 sementara Bayern 4-2-3-1. Namun, beberapa perubahan terjadi pada komposisi pemain, baik karena alasan pemain yang cedera atau untuk kepentingan strategi.
Di kubu Barcelona, Busquets yang tidak mampu bermain karena cedera digantikan oleh Alex Song. Sementara Adriano mengambil alih tugas bek kiri dari Jordi Alba yang terkena hukuman akumulasi kartu.
Untuk menggantikan Messi yang tidak bermain, Tito menggunakan Cesc Fabregas sebagai false nine. David Villa yang merupakan seorang striker murni lalu ditempatkan di sayap kanan untuk berduet dengan Dani Alves menyerang dari sisi lateral lapangan.
Di kubu Bayern, Jupp Heynckess melakukan perubahan minor. Ia menukar posisi dobel-pivot Schweinsteiger dan Martinez sehingga Schweini berada di sebelah kiri dan Martinez di kanan. Selain itu, dengan kembalinya Mandzukic setelah menjalani hukuman larangan bertanding, Mario Gomez kembali ke bangku cadangan.
Memberikan ruang tengah untuk Barcelona
Kedua tim bermain dengan gaya andalannya, yaitu passing pendek dari kaki ke kaki, pressing tinggi, dan dengan garis pertahanan tinggi. Namun, Bayern lebih sering memberikan zona tengah lapangan pada Barcelona dan lebih senang menyerang lewat sisi lapangan. Hal ini terlihat jelas dalam chalkboard di bawah.

Sebenarnya hal yang sama terjadi pada pertemuan pertama di Allianz Arena, yaitu Bayern yang bermain dengan gaya khas Jerman dengan menggunakan permainan sayap. Namun, di babak pertama pertandingan ini, Bayern secara sukarela memberikan penguasaan bola pada Barcelona demi mempertahankan struktur lini tengah dan lini belakang saat bertahan.
Ya, berbeda dengan Barcelona yang secara aktif merebut bola, Bayern lebih sering melakukan penguasaan permainan dengan mempertahankan posisi pemain. Duet Mueller-Mandzukic selalu berada depan Pique-Bartra, sementara Schweinsteiger-Martinez yang berposisi sejajar tepat di depan duet Van Buyten- Boateng.
Bahkan posisi ini dipertahankan saat menyerang dan Bayern hanya mengandalkan Ribery-Robben untuk membawa bola dan melakukan variasi serangan. Karena itu, saat melakukan serangan balik, acap kali formasi Bayern berubah jadi 4-2-4.
Dengan pergerakan seperti itu tak heran area tengah pertahanan Barcelona hampir steril dari passing-passing yang dilakukan oleh pemain Bayern (lihat kotak biru di grafik passing Bayern).
Akan tetapi, mengingat tujuan Bayern datang ke kota Barcelona untuk tidak membiarkan Blaugrana mencetak gol, strategi ini terbukti ampuh. Minimnya peluang Bayern selama 45 menit -- hanya mendapatkan dua kali attempts, dua-duanya dari luar kotak penalti dan berhasil diblok -- dibayar lunas dengan Barca yang juga tak bisa mendekati kotak penalti Bayern.
Satu kecerdikan lainnya dari Bayern adalah memasang defensive line yang tinggi. Bayern tidak menumpuk pemain di dekat kotak penalti, namun mempertahankan kerapatan jarak antarlini. Akibatnya, walau bola dikuasai oleh Barcelona, aliran bola hanya berputar-putar di tengah lapangan dan bukan di daerah sepertiga lapangan akhir.
Potong umpan dari dan untuk Xavi
Selain karena bola yang lebih sering mengalir di tengah, serangan Barcelona tidak efektif karena Bayern berhasil meminimalisir peran Xavi, pemain dengan assist terbanyak untuk Barca di Liga Champions. Hal ini terlihat dalam grafik influence pemain yang dikeluarkan oleh situs penyedia data Stats Zone di bawah.
Dari gambar di bawah terlihat bahwa keempat bek Barcelona dan Alex Song memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan Xavi, sementara Schweinsteiger jadi pemain paling berpengaruh untuk Bayern Munich.

Hal ini terjadi karena Bayern mampu memotong bola untuk dan dari Xavi. Caranya, lagi-lagi, adalah melalui duet Mandzukic-Mueller dan Schweini-Martinez.
Saat bola berada di kaki Pique atau Bartra, maka kedua ujung tombak Bayern akan memberikan tekanan pada dua center-back Barca tersebut untuk tidak mendistribusikan bola pada Xavi.
Di sisi lapangan lainnya, hal yang sama pun terjadi. Saat Xavi mendapatkan bola, maka duet Schweini-Martinez akan menutup ruang gerak Xavi dan mengisolasinya dari Iniesta, Villa, atau Iniesta. [Lihat grafik di bawah ini. Sumber: squawka.com]

Dari grafik passing kedua center-back Barca di atas terlihat bagaimana Pique dan Bartra lebih sering mengalirkan bola kesayap, atau melakukan passing antar keduanya ketimbang mengalirkan bola ke arah Xavi. Bahkan kombinasi passing Pique-Bartra jadi kombinasi tertinggi di antara pemain Barcelona lainnya, yaitu sebanyak 21 kali.
Padahal, dalam skema serangan Barcelona, bek tengah yang membawa bola atau mendistribusikan bola ke depan memiliki peranan penting. Dengan Busquet yang tak bisa bermain -- pemain ini juga memiliki peran penting dalam membangun serangan secara cepat dari belakang -- maka tak heran peran Xavi bisa direduksi.
Schweinsteiger-Mandzukic-Ribery vs Dani Alves
Dani Alves acap kali jadi satu-satunya outlet Barcelona dalam menyerang. Memang, bek kanan ini lebih sering berada di daerah pertahanan Bayern dan merapat dengan garis lapangan (satu-satunya pemain yang bermain melebar). Bahkan, saat Xavi kehilangan opsi untuk mengalirkan bola, ia pun lebih memilih untuk memberikan umpan pada Alves. (Lihat grafik passing Xavi -- lebih sering mengalirkan bola ke arah kanan lapangan -- di bawah ini:)

Salah satu alasan mengapa Jupp Heynckes menukar posisi Schweinsteiger dengan Martinez adalah untuk mengantisipasi hal ini. Dengan tekel-tekelnya, pemain tengah timnas Jerman ini memang berhasil meredam pergerakan Alves. Bahkan, dari empat tekel yang dilakukan oleh Schweini di babak pertama, seluruhnya ditujukan pada Alves.
Namun, defensive action untuk menjaga Alves ini tidak hanya dilakukan oleh Schweini seorang. Ribery dan Mandzukic juga acap kali turun ke daerah pertahanan dan membentuk triangulasi untuk mengatasi Alves. Dalam pertandingan ini, 2 dari 4 tekel yang dilakukan oleh Mandzukic dialamatkan pada Alves.
Demikian pula dengan Ribery. Satu-satunya tekel yang dilakukan oleh pemain asal Perancis ini juga terjadi untuk menghentikan Alves.
Pertahanan tiga lapis Bayern
Satu hal yang menarik untuk dicatat dalam pertandingan ini adalah bagaimana cara Bayern melakukan defensive action yang berbeda: tekel, intersepsi, dan clearance. Hal ini terlihat dari grafik di bawah. [Sumber: Squawka.com]

Jika satu tim biasanya melakukan defensive action ini secara sporadis di berbagai area di lapangan, maka ini berbeda dengan Bayern.
Untuk menghalang bola mengalir lewat area tengah, Bayern akan menggunakan intersepsi. Sementara untuk menghentikan pergerakan pemain di sayap akan dilakukan defensive action dengan intensitas lebih tinggi, yaitu tekel. Sementara itu, keempat bek tinggal memiliki tugas yang mudah, yaitu mengahalau (clearance) bola yang masuk ke area kotak penalti.
Hal ini pun bersesuaian dengan Bayern yang lebih membiarkan Barca untuk memiliki penguasaan bola di tengah, namun akan menghentikan segera ancaman yang berasal dari sayap lapangan. Memang, dengan ukuran lapangan Nou Camp sebesar 105 m x 68 m (terlebar di Eropa setelah Real Madrid, sama dengan Old Trafford, San Siro, Emirates, dan Wembley), maka membiarkan Barca memanfaatkan lebar lapangan berarti memberikan ruang lebih luas untuk berkreasi.
Gol penentu yang khas Bayern Munich
Saat Robben mencetak gol di menit 48, lini masa twitter meledak dengan komentar bahwa gol ini adalah khas Robben. Bahwa gerakan memotong ke dalam kemudian melesakkan bola ke pojok kiri atas gawang adalah trademark pemain sayap asal Belanda ini.
Di satu sisi, ini tentu benar adanya. Dan Robben memang acap kali melakukan hal ini baik saat berkostum Bayern ataupun timnas Belanda.
Namun, gol ini pun bisa dikatakan gol khas Bayern Munich, karena lahir dari kombinasi gerakan yang dilakukan oleh Bayern secara berulang dalam pertandingan ini: pergerakan cepat di sayap (Alaba yang memberikan assist crossing), Robben yang cutting inside, dan Mandzukic-Mueller yang melakukan pressing pada Pique-Bartra sehingga pergerakan Robben tidak terhalangi.
Ya, gol yang mengakhiri asa Barcelona untuk lolos ke final dan memaksa Tito untuk mengibarkan bendera putih di menit 65 adalah gol yang khas Bayern. Semacam kulminasi apa-apa yang telah mereka tunjukkan di lapangan hijau dalam dua laga semi final.
Untuk itu, dan untuk keberhasilan mereka mendominasi salah satu tim terbaik yang pernah ada di muka bumi, hanya satu kata yang patut untuk diucapkan: Selamat!
===
*Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball
(a2s/krs)











































