Derby Tanpa Gol Tanpa Greget

Liga Inggris: Liverpool 0-0 Everton

Derby Tanpa Gol Tanpa Greget

- Sepakbola
Senin, 06 Mei 2013 19:13 WIB
Derby Tanpa Gol Tanpa Greget
Laurence Griffiths/Getty Images
Jakarta - Derby ke-220 antara dua tim kota Liverpool ini ditandai dengan minimnya peluang dan dua tim yang tidak mampu mencetak gol. Dengan hasil ini Everton tetap berada satu peringkat di atas Liverpool di klasemen sementara, dengan jarha lima poin. Mengingat liga yang tinggal menyisakan dua laga lagi, tampaknya Everton pun akan mengakhiri musim dengan posisi lebih tinggi dari rival sekotanya itu.

Jika biasanya derby Merseyside dimainkan dengan tensi tinggi yang sering ditandai dengan adanya kartu merah -- 20 kartu merah dalam 41 pertemuan terakhir --, maka pertemuan kali ini berlangsung adem ayem. Hanya tiga kartu kuning yang dikeluarkan wasit selama 90 menit. Kedua tim pun total hanya melakukan 22 pelanggaran (10 untuk Liverpool, 11 Everton).

Memang, pelanggaran Victor Anichebe terhadap Pepe Reina, sehingga gol Everton dianulir, masih bisa diperdebatkan. Namun, secara kasat mata, derby ini berlangsung tanpa peristiwa kontroversial yang memancing emosi kedua tim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian pula dengan permainannya itu sendiri yang berlangsung kurang greget. Sepanjang pertandingan kedua tim hanya total melakukan 5 shot on target: Liverpool 3, Everton 2. Jumlah ini hampir setengah dari rata-rata shot on target yang biasanya dilakukan kedua tim dalam satu pertandingan.

Dari minimnya peluang itu, tercatat baik Liverpool maupun Everton pun masing-masing hanya memiliki satu peluang emas. Untuk Everton, momen itu datang saat tendangan bebas Leighton Baines yang disambut sontekan oleh Fellaini masih melebar dari tiang gawang. Sementara peluang bagi Liverpool hadir di awal babak kedua, saat tendangan Daniel Sturridge, melalui umpan Coutinho, hanya mengenai sisi gawang.

Selebihnya, tim yang diarsiteki Brendan Rodgers dan David Moyes ini saling bertukar peluang, namun tanpa mengancam gawang.

Bagi Moyes sendiri, yang dikabarkan akan hengkang di awal musim, hasil imbang ini menambah rekor buruknya saat melawan Liverpool di Anfield. Selama 11 musim menjadi pelatih Everton, Moyes memang belum pernah sekalipun merebut 3 poin di kandang Liverpool.

Sementara untuk Liverpool, hasil ini seakan menegaskan ketidakmampuan mereka di musim ini untuk menang melawan tim-tim papan atas. Hanya dua kali Gerrard dkk berhasil mengalahkan tim yang peringkatnya di klasemen berada di atasnya, yaitu melawan Swansea dan Tottenham Hotspur.

Pressing Ketat

Salah satu penyebab di balik sulitnya Liverpool menang atas tim papan atas adalah karena "Si Merah" memang kesulitan mengembangkan permainan saat bertemu dengan tim yang menerapkan pressing secara ketat. Terlebih lagi jika doble-pivot, Lucas Leiva - Steven Gerrard, diberi pressing dan dipaksa bermain di daerah pertahannnya sendiri. Acap kali lini depan akan terisolasi dan tidak mendapatkan suplai bola.

Inilah yang dilakukan Everton, terutama di babak pertama. Dengan menempatkan Fellaini sebagai second striker dengan dibantu oleh duet Osman dan Gibson di tengah, Everton coba menegasikan peran Lucas-Gerrard dalam membangun serangan. Fellaini, terutama, dengan kemampuan aerial duel-nya serta fisik yang kuat acap kali berada di antara Gerrard dan Lucas dan mengganggu kombinasi keduanya.

Di belakang Fellaini, Osman dan Gibson pun memberikan tekanan pada Downing dan Henderson sehingga Gerrard dan Lucas kehilangan outlet untuk mendistribusikan umpan.

Tak mampu keluar dari pressing pemain tengah Everton, di babak pertama Gerrard dan Lucas lebih sering berada di area pertahanannya sendiri. Hal ini terlihat dari grafik heat-map keduanya di bawah ini.



Menyerang Lewat Sayap

Akibat terbatasnya pergerakan Gerrard dan Lucas, Liverpool pun kemudian memilih untuk mengalirkan bola melalui sayap lapangan. Ini terlihat dari grafik passing Liverpool di bawah ini.



Di babak pertama, Liverpool lebih banyak mengalirkan bola melalui sayap kanan, sementara di babak kedua seimbang antara kedua sisi lapangan. Namun, sebagaimana terlihat dari kedua grafik di atas, Liverpool memang tak bisa menembus pertahanan Everton melalui tengah lapangan. Trio Fellaini – Osman – Gibson berhasil dalam kerjanya mengisolasi Gerrard dan Lucas dalam membantu Coutinho dan Sturridge.

Untuk mengantisipasi serangan dari sayap ini, Everton lalu memperkuat pertahanannya. Dalam grafik defensive action Everton di bawah terlihat bagaimana tekel-tekel yang dilakukan Everton terkonsentrasi di sayap lapangan. Sementara untuk menghadapi serangan dari tengah, Everton melakukan intersepsi atau membuang bola.

Dengan Liverpool yang kesulitan untuk menembus tengah dan sayap lapangan, maka cara satu-satunya untuk mengalirkan bola kedepan adalah melalui umpan-umpan panjang. Karena itu, intersepsi atau clearance di area tengah lapangan jadi alat yang efektif untuk mengganggu permainan Liverpool.



Coutinho dan Sturridge yang Tidak Berkutik

Akibat solidnya pertahanan Everton baik di tengah maupun pinggir lapangan, Sturridge dan Coutinho acap kali terisolasi di depan dan tak menerima suplai bola. Namun, Sturridge sendiri tidak bermain seapik biasanya, dan belum terbiasa jadi ujung tombak yang memiliki tugas untuk menahan bola dan menunggu rekan-rekannya untuk naik menyerang.

Dalam pertandingan ini, Sturridge terhitung 7 kali melepaskan bola (dispossessed) karena tekanan atau defensive action dari Everton. Terbanyak diantara pemain Liverpool lainnya.

Sementara Coutinho sendiri, walau sempat memberikan 4 peluang bagi rekan-rekannya, tidak memiliki pengaruh sebesar saat ia bertanding lawan Newcastle. Ini terutama terlihat di babak pertama. Di grafik bawah ditunjukkan bahwa saat melawan Newcastle, Coutinho acap kali memberikan umpan terobosan ke depan dari tengah lapangan.

Namun, saat berhadapan dengan Everton, karena padatnya lini tengah (3 pemain Liverpool vs 3 pemain Newcastle) Coutinho tidak memiliki ruang untuk berkreasi dari dalam. Karena itu ia lebih sering menerima umpan di sepertiga lapangan akhir. Lihat grafik perbandingan performa Coutinho Saat Lawan Everton (kiri) dan Newcastle (kanan) di bawah ini:



Cetak Gol Lewat Bola Mati

Meski berhasil mematikan aliran bola dan serangan Liverpool, Everton hanya sesekali bisa mengancam gawang Pepe Reina. Ini terutama dilakukan melalui bola-bola mati, yaitu lewat free kick Leighton Baines dan tendangan penjuru.

Fellaini yang biasa melakukan drive atau mengalirkan bola di area sepertiga lapangan pun tidak tampil ngotot seperti biasanya. Ia lebih sering menyerang lewat area kiri dengan membentuk triangulasi dengan Pienaar dan Baines. Lihat
grafik passing Fellaini berikut ini:



Dari area triangulasi ini pulalah Everton sering mendapatkan peluang melalui set piece. Steven Pienaar jadi pemain yang paling sering dilanggar, yaitu 4 kali, sementara Leighton Baines dijatuhkan 3 kali.

Substitusi

Untuk meningkatkan daya gedor, Rodgers sempat melakukan dua pergantian, yaitu Henderson diganti oleh Fabio Borini dan Downing ditukar dengan Martin Skrtel. Dengan melakukan substitusi ini, Liverpool semenjak menit 80 bermain dengan formasi 3-5-2. Jose Enrique kemudian kerap merangsek hingga ke byline dan memberikan umpan tarik pada Sturridge atau Borini.

Terbukti dengan pergantian ini Liverpool mampu menembus kotak penalti Everton. Semenjak Borini dan Enrique masuk, terhitung empat kali Liverpool mampu melakukan attempts di dalam kotak penalti dan dua dari luar. Bandingkan dengan babak pertama, di mana mereka hanya mampu satu kali melakukan tendangan dari dalam kotak penalti Everton.

Namun, hingga akhir pertandingan, kedudukan tidak berubah. Baik Everton yang mengandalkan bola mati maupun Liverpool yang menambah daya gedor sama-sama tak mampu menciptakan gol satu pun. Derby adem ayem ini akhirnya berujung hasil imbang.

===

* Akun twitter penulis: @panditfootball


(a2s/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads