Taktik Conte pada Chiellini, Mazzarri pada Icardi

Liga Italia: Inter 1-1 Juventus

Taktik Conte pada Chiellini, Mazzarri pada Icardi

- Sepakbola
Minggu, 15 Sep 2013 17:32 WIB
Taktik Conte pada Chiellini, Mazzarri pada Icardi
Getty Images
Jakarta - Derby D’Italia jilid pertama musim ini telah digelar tadi malam. Gol yang dicetak Vidal menit 75 mampu membungkam puluhan ribu supporter Inter yang sempat berlagak angkuh selama dua menit lamanya pasca Icardi membobol gawang Gianluigi Buffon di menit 73. Skor 1-1 cukup imbang bagi kedua tim.

Bagi tim tuan rumah, hasil laga tersebut bisa dibilang cukup memuaskan. Dengan pola baru dan beberapa pemain baru, Inter masih perlu beradaptasi dengan pola taktikal Walter Mazzarri. Tentu saja saat menangani Inter tak sama seperti saat dia mengarsiteki Napoli. Meski para penggawa lama Inter tak asing dengan pola 3-5-2, tetap saja Mazzarri adalah pelatih baru.

Di laga tadi malam, Mazzari menghadapi Antonio Conte. Sosok Conte inilah yang berhasil mempopulerkan taktik dan formasi 3-5-2 yang membuat 'Si Nyonya Tua' berhasil merengkuh Scudetto. Padahal, sebelum Conte memperkenalkan lagi 3-5-2, Mazzarri lebih dulu menggunakannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan Juventus Bermula dari Back-three

Memakai pola 3-5-2, di babak pertama Juventus memang menampilkan pressing ketat terhadap Inter. Tekanan Juve ini disertai dengan menarik garis pertahanan yang tinggi, bahkan kadang masuk ke area lapangan Inter.

Formasi dasar Juventus

Menarik dicermati adalah lini pertahanan Juve. Backthree Juventus [Bonucci-Barzagli-Chiellini] tak membentuk pola sejajar seperti biasanya, tetapi muncul dengan variasi baru yaitu cenderung berbentuk diamond. Dalam cara bertahan ini, Bonucci seorang diri menjadi center-back di belakang dan kadang malah berdekatan posisinya dengan Andrea Pirlo yang kerap mundur ke belakang.

www.whoscored.com

Player position Juventus (www.whoscored.com)

Sementara itu, peran Chiellini [no. 3] dan Barzagli [no. 15] yang mengapit Bonucci [no. 19] di kiri dan kanan lebih melebar ke posisi sayap, mengisi kekosongan Asamoah [kiri] dan Lichsteiner [kanan]. Guna mengisi kekosongan yang ditinggalkan Lich dan Asamoah saat menghadapi serangan balik, Conte mengoperasikan duet Barzagli-Chiellini di garis tengah lapangan. Targetnya: memotong serangan balik Inter sedini mungkin.

Inilah pilihan taktik yang menyebabkan Juventus bermain dengan pressing dan garis pertahanan yang tinggi, kadang sampai mendekati atau bahkan melawati garis tengah lapangan. Dalam chalkboard di atas terlihat bagaimana Chiellini jauh lebih ke tengah ketimbang di sisi lapangan.

Tak hanya sekedar menarik kedalaman defensive line, kwartet Pirlo-Barzagli-Chielline-Bonucci menjadi kunci membantu Juventus dalam menyusun serangan dari bawah. Terlihat dari jumlah passing keempat pemain ini yang jumlah passingnya tertinggi ketimbang pemain-pemain Juve lainnya.



Dari jumlah keakuratan passing pun, back-three Juventus memiliki akurasi cukup tinggi [Bonucci 89%, Chiellini 92%, Barzagli 90 %]. Minimnya pressing dari barisan tengah Inter menyebabkan bek-bek Juve bebas berkreasi di lini tengah. Pemain Inter sendiri lebih terfokus melakukan zona marking, di pintu masuk area final third.

Peran Chiellini Membendung Serangan Inter.

Patut juga dicermati instruksi Conte kepada Chiellini untuk merangsek lebih naik ke depan, terkadang posisinya sejajar dengan Pirlo, terkadang bahkan lebih jauh lagi sampai ke final-third lawan.

Chalkboard di bawah ini menjelaskan bagaimana produksi umpan Chiellini sangat banyak dilakukan di daerah Inter. Bahkan, produksi umpan Chiellini juga banyak dilakukan di daerah tengah, tak hanya di sisi lapangan.




Chalkboard umpan Chiellini [via www.squawka.com]

Kendati bermain sebagai bek, tapi posisinya lebih banyak di area tengah. Perannya di sana jelas, yaitu membendung pergerakan Fredy Guarin dan memotong aliran bola dari Guarin kepada Rodrigo Palacio atau Ricky Alvarez [yang di pertandingan tadi malam ruang geraknya tak dibatasi oleh Pelatih Inter, Walter Mazzarri].

Saat Juventus bertahan, Chiellini pun ditugasi untuk menjaga Guarin. Kehadiran Chiellini di tengah, memudahkan pressing ketat yang dilakukan Juve kepada pemain-pemain Ill Nerrazurri di lini sayap kiri mereka sendiri.

Chiellini bergerak ke tengah saat Juve memasuki final third Inter

Saat Jonathan dan Guarin menguasai bola, maka di situ pasti ada tiga pemain Juve membentuk triangle melakukan pressing. Dimatikannya Guarin oleh Chiellini otomatis berdampak pada tak efektifnya serangan balik yang dirancang oleh Inter ke sayap kiri.

Sebelum dihadang oleh trio Barzagli-Pirlo-Chiellini di tengah pertahanan, Vidal telah menutup pergerakan Cambiasso. Vucinic dan Tevez yang memerankan sebagai false nine membuat asa Inter untuk menyerang kian semakin sulit. Akibat kondisi ini, Inter amat jarang lama-lama menguasai bola di area final third Juve.

Rapatnya Persebaran Pemain Inter

Saat bertahan, Inter bermain rapat antara lini belakang, tengah, dan depan. Saking rapatnya, maka saat menyerang Palacio selalu telat naik kedepan. Jika kita lihat chalkboard di bawah ini, 9 pemain Inter Milan di dalam kotak putih [kecuali kiper dan Ranocchia/no. 23] menumpuk dalam zona yang sangat rapat.



Player position Inter Milan [by whoscored.com]

Peran Alvarez untuk membuka ruang pun tak begitu kentara terlihat di babak pertama. Alvarez lebih banyak bergeser ke posisi kiri, mengisi kekosongan Jonathan yang bergeser ke tengah untuk memancing Asamoah agar mengikutinya. Sementara itu, Palacio terlalu bergeser ke kanan membantu Nagatomo mengekspolitasi titik vital kelemahan Juventus lewat Lichsteiner yang selalu over-lapping dan telat mundur. Mestinya, untuk membantu Nagatomo peran ini dibebankan kepada pemain Inter yang baru didatangkan dari Bologna, Saphir Sliti Taïder. Berhubung ia ditugasi oleh Mazzari untuk man to man marking terhadap Vidal, maka agresifitas Taïder pun kurang begitu menonjol.

Performa Lich tak seperti saat melawan Lazio di laga sebelumnya yang selalu cepat saat bertahan maupun menyerang. Di lagi tadi malam, ia tampil berbeda. Kelelahan akibat menjalani pertandingan kualifikasi pra Piala Dunia mungkin menjadi penyebabnya.

Posisi Lich yang jauh di depan, otomatis hanya diback up oleh Barzagli seorang. Itulah alasan kenapa saat counter attack Inter selalu menyerang dari lini dengan mengorbankan Palacio ke kanan dan mengosongkan area depan gawang. Cutting inside yang diakhiri dengan tendangan jarak jauh yang dilakukan secara bergantian oleh Nagatomo dan Taider cukup membuat Buffon jatuh bangun menahan gempuran. Ada 5 attempt yang diciptakan, semuanya berawal dari skema ini.

Antisipasi Conte

Sadar akan kelemahan timnya dari sisi Lichsteiner, Conte segera menggantinya dengan Mauricio Isla. Sedangkan di kubu lawan, untuk membongkar garis pertahanan Juve, Mazzari memasukan Mauro Icardi.

Perubahan taktikal terjadi. Inter yang semula memakai striker tunggal 3-5-1-1 berganti menjad 3-5-2 dengan posisi Icardi yang sejajar dengan Palacio. Terkadang saat menyerang formasi menjadi 4-4-2, mengorbankan Guarin ke posisi winger dan Jonathan yang bersifat lebih defensif.

Formasi Inter setelah Icardi masuk

Kondisi ini membuat Juventus saat bertahan memakai back-four menarik Chiellini kembali ke posisi semula, sejajar dengan Bonucci dan Barzagli, serta Asamoah yang menjadi fullback.

Turunnya Chiellini ini membuat Andrea Pirlo kewalahan, beberapa kali Inter mampu melakukan trough-pass berbahaya dari wilayah Pirlo. Karena itulah Pogba digeser lebih mundur ke belakang, membuat Inter kali ini sedikit mendominasi serangan sejak menit 75.

Kurang Berperannya Penyerang Juve dan Solidnya Defender Inter

Kendati memasang garis pertahanan yang tinggi terkadang sampai tengah lapangan, alur serangan Juventus yang dimulai dari belakang selalu berhasil mentok di luar kotak pinalti Inter. Penerapan garis pertahanan berlapis oleh Inter memang jadi faktor penyebabnya sulitnya Juve masuk ke kotak penalti lawan. Mereka bertahan sangat disiplin, jarang terpancing ke luar dari wilayah yang dijaganya. Andrea Rannochia dan Juan Jesus sangat jarang mau dipancing oleh duet penyerang Juve, Tevez-Vucinic, yang kerap memancing bek untuk meninggalkan posisinya.
Berbeda dengan Juan dan Rannochia, bek kanan Inter Hugo Campagnaro sering naik membantu penyerangan. Celah ini beberapa kali dimanfaatkan Pogba menjadi peluang.

Agresifitas Campagnaro ini bukan terpancing oleh Tevez-Vucinic. Terlihat Mazzari memang menginstruksikannya naik untuk membongkar serta mendorong Chiellini mundur ke belakang.

Kesimpulan

Skor 1-1 ini jelas tidak memuaskan bagi Juventus. Dalam pernyataannya setelah pertandingan, Conte menyesalkan skor akhir ini. Jelas bahwa Conte merasa timnya lebih layak memenangkan laga karena menguasai jalannya pertandingan ini.





www.whoscored.com

Melihat statistik pertandingan, terutama dalam hal percobaan mencetak gol, Juventus memang mendominasi. Sekitar 95 persen percobaan mencetak gol Juventus lahir dari permainan terbuka. Sementara, dari 8 percobaan mencetak gol Inter, hanya 4 yang berasal dari permainan terbuka. 3 sisanya dari situasi bola mati dan 1 lagi dari skema serangan balik.

Statistik percobaan mencetak gol lewat serangan balik yang hanya 1 buah itu menjelaskan skema serangan balik Inter memang tidak begitu berjalan. Tapi, mereka bisa menyiasatinya dengan mengeluarkan senjata andalan ketika menghadapi Juventus: Mauro Icardi. Bukan kali ini saja Icardi berhasil menjebol gawang Buffon.

Di sisi lain, skema serangan balik Inter yang relatif kurang menggigit itu juga bisa diperlakukan sebagai kemenangan taktikal Conte dalam hal mencegah serangan balik itu lewat skema garis pertahanan yang tinggi. Tapi kemenangan taktikal itu tak pernah jadi kemenangan dalam hasil akhir juga karena Chiellini: dia gagal mengantisipasi serangan balik Inter dan gagal mengawal pergerakan Icardi yang berujung gol.

====

*akun twitter penulis: @Panditfootball
*Tentang Pandit Football lihat di sini

(din/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads