Serangan Balik ala Madrid dan Peran Baru Di Maria

Liga Champions: Galatasaray 1-6 Real Madrid

Serangan Balik ala Madrid dan Peran Baru Di Maria

- Sepakbola
Rabu, 18 Sep 2013 17:25 WIB
Serangan Balik ala Madrid dan Peran Baru Di Maria
Burak Kara/getty Images
Jakarta - Menghadapi tuan rumah Galatasaray di laga perdana putaran grup Liga Champions, Real Madrid meraih kemenangan dengan skor meyakinkan 1-6. Mereka tampil efektif sekaligus mematik dengan mengandalkan pola serangan balik.

Tampil dengan formasi 4-2-3-1, Carlo Ancelotti memercayakan Karim Benzema di lini depan dengan trio gelandang serang Angel Di Maria, Isco dan Cristiano Ronaldo yang turut mendukung di belakangnya. Iker Casillas yang menjalani pertandingan pertamanya pada musim ini harus ditarik keluar ketika waktu telah berjalan selama 15 menit karena cedera. Lagi-lagi Casillas pun harus menerima perannya digantikan kembali oleh Diego Lopez.

Sedangkan Galatasaray tampil dengan mungusung formasi 4-3-1-2. Duet striker Didier Drogba dan Burak Yilmaz menjadi tumpuan serangan. Wesley Sneijder mendukung pasokan bola bagi kedua striker tersebut dengan berada pada posisi di belakang striker.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lini Pertahanan Level Pertama Madrid

Terlihat jelas pada laga ini Madrid begitu mengandalkan Ronaldo meskipun sebenernya dari susunan formasi Benzema berada pada posisi ujung tombak. Ronaldo mampu mencatatkan 9 kali attempt dengan 6 kali shot on target.

Ronaldo sendiri acap terlihat bermain dengan menunggu bola di lini depan sedangkan Benzema malah lebih banyak bergerak di belakangnya. Dalam posisi yang lebih sering berada di belakang Ronaldo, pemain Prancis ini juga banyak melakukan tindakan bertahan. Statistik menunjukkan, Benzema mampu mencatatkan 2 kali tekel pada laga ini. Angka tersebut menunjukkan jumlah yang sama dengan Dani Carvajal, Alvaro Arbeloa dan Gareth Bale. Wajar bagi Carvajal dan Arbeloa karena mereka merupakan pemain bertahan.

Berbeda kasusnya pada Benzema dan Gareth Bale. Kedua pemain tersebut bermain pada pos serangan Real Madrid. Artinya, bahwa selain menjadi tumpuan dalam membangun serangan. Barisan penyerang Madrid pun turut menjadi lini pertahanan level pertama.

Serangan Balik Efektif

Bermain dengan mengandalkan pola serangan balik, Madrid mampu bermain secara efektif. Pada laga ini, penguasaan bola cenderung berimbang dengan perbandingan 50:50. Namun, Madrid bermain gemilang dengan gaya permainan vertikal.

Galatasaray yang cukup memiliki penguasaan bola dibiarkan untuk mengendalikan pertandingan. Namun, penguasaan bola yang dihasilkan oleh tim asuhan Fatih Terim ini tak lebih hingga sepertiga area serangan Galatasaray.





Pertahanan berlapis Real Madrid

Akibatnya, Galatasaray hanya mampu bermain pada areanya sendiri. Dengan pola seperti itu, otomatis lini pertahanan Galatasaray cenderung terpancing untuk maju guna mendukung pergerakan pemain dalam menguasai ball possession.

Akan tetapi, Real Madrid melawan strategi tersebut dengan memperagakan pressing ketat di area pertahanannya. Oleh karena itu, bola yang dialirkan ke lini depan oleh Galatasaray acap kandas dan bola yang lepas dari penguasaan tersebut mampu untuk dialirkan secara langsung ke lini depan.

Dengan kondisi garis pertahanan yang tinggi dan terlambat turunnya para pemain bertahan Galatasary, tentu memudahkan lini serang Madrid dalam mengandalkan serangan melalui kecepatan pemainnya. 4 dari total 6 gol yang dicetak oleh Isco, Ronaldo (2) dan Benzema pada laga ini pun tak lepas dari pola serangan yang sama. Statitik menunjukkan presentase konversi tembakan menjadi gol Madrid sebesar 33%.

Umpan Silang Galatasaray yang Jinak

Kunci bagi Real Madrid untuk mampu menahan serangan Galatasaray adalah dengan memeragakan pertahanan rapat. Dua holding midfielder yang diperankan Sami Khedira dan Luca Modric acap membantu lini pertahanan Madrid. Modric sendiri mampu menghasilkan catatan intersep terbanyak jika dibandingkan dengan teman-temannya sebanyak 5 kali.

Sedangkan Pepe bermain cukup apik dengan menghasilkan catatan clearance pun sebanyak 5 kali. Garis pertahanan yang dalam juga turut menjadi faktor sulitnya Galatasaray untuk masuk ke lini pertahanan.

Kokohnya duet Modric-Khedira dalam melindungi pertahanan Madrid inilah yang menyebabkan Galatasaray lebih banyak mencoba menembus pertahanan Madrid melalui sisi lapangan, terutama melalui sayap kiri.

Albert Reira menjadi pemain yang sangat aktif naik ke depan, membantu serangan dari sisi kiri. Agresivitasnya juga dibantu oleh cara bergerak Drogba-Burak Yilmaz yang banyak melebar ke kiri sehingga kerap membentuk segitiga antara Riera dan Drogba/Yilmaz dan Sneijder yang menjadi otak serangan.



Dalam chalkboard umpan yang dikeluarkan Squawka di atas, hanya 2 kali Sneijder melepas umpan dari tengah ke sisi kanan. Mayoritas umpan yang dilepaskannya dikirim ke kiri.

Tak heran jika Galatasaray sampai membuat 21 umpan silang [hanya 5 umpan silang dari kanan, itu pun termasuk sepak pojok]. Dominasi umpan silang itu banyak dilakukan dari kiri dengan Riera sebagai penyumbang terbanyak dengan 5 umpan silang [hampir seperempat umpan silang Galatasary dibuat oleh Riera].

Hanya saja, Carvajal sebagai full-back kanan relatif mampu bekerja dengan baik. Begitu duet Pepe-Ramos di jantung pertahanan. Bola-bola umpan silang Galatasaray relatif mampu dijinakkan. Tak heran hanya 8 dari 21 umpan silang kurang 40%] Galatasaray yang mampu menemui sasaran.

Peran Di Maria Membongkar Pertahanan Galatasaray

Meskipun Eygen Baytar, Felipe Melo dan Selcuk ini yang notabene merupakan seorang gelandang ikut turun untuk membantu pertahanan, namun tetap saja Real Madrid mampu memanfaatkan celah kosong yang ada pada ruang pertahanan Galatasaray. Terlebih Ronaldo acap terlihat bergerak tanpa pengawalan pemain.

Blunder di lini pertahanan pun turut menjadi penyebab beberapa peluang bagi Real Madrid mampu tercipta. Pressing ketat Madrid menjadi andil dalam terjadinya blunder yang acap dilakukan Galatasaray.

Hampir semua gol Real Madrid diawali oleh umpan yang dikirimkan dari tengah menusuk langsung ke jantung pertahanan Galatasarat. Assist Di Maria pada gol Isco dan Benzema, assist Benzema pada gol Ronaldo yang pertama, juga assist Ronaldo pada gol Benzema yang terakhir, lahir dari situasi yang terjadi di jantung pertahanan Galatasaray.

Dua assist Di Maria di laga ini menjelaskan bahwa sejauh ini, melepas Oezil yang sebelumnya adalah "raja assist Madrid" bisa ditambal oleh Di Maria. Yang dilakukan oleh Ancelotti adalah membiarkan Di Maria lebih leluasa bergerak sehingga tidak terpaku di sisi kanan lapangan saja. Dalam posisi inilah dia membuat assist pada gol Isco dan Benzema. Assist itu lahir dari kaki Di Mari yang berada dari tengah, bukan di sisi lapangan.



Inilah yang membuat dominasi serangan Madrid kebanyakan datang dari tengah, bukan dari sayap. Melihat area tembakan dan serangan Madrid seperti terlihat dalam chalkboard di atas (diambil dari www.whoscored.com), terlihat serangan dan tembakan dari tengah sangat mendominasi. Dari sisi kanan yang biasa jadi daerah operasi Di Maria hanya menyumbang 11 persen, padahal Di Maria adalah pembuat assist [2] dan keypass [2] terbanyak.

Kesimpulan

Real Madrid tampil superior dengan mengandalkan pola serangan balik. Tanpa mengecilkan peran Galatasaray, perbedaan kualitas pemain juga turut mendukung penampilan gemilang Madrid pada laga kali ini. Atas raihan ini, Real Madrid berhasil menghapus rekor tak pernah menang di kandang Galatasaray sejak tahun 2000.

Sedangkan bagi Galatasaray, tentunya hasil akhir laga ini menjadi pukulan telak bagi jawara Liga Turki musim lalu tersebut. Rapuhnya lini pertahanan Galatasaray menjadi titik lemah. Hal ini akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pelatih Fatih Terim guna tetap mengamankan peluang untuk lolos ke fase selanjutnya. Karena pada laga grup B lainnya, Juventus hanya mampu menahan imbang tim asal Denmark, Copenhagen.


====

*akun twitter penulis: @Panditfootball
*Tentang Pandit Football lihat di sini



(a2s/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads