Sayap 'Garuda Muda' Membongkar Timor Leste

Piala AFF U-19: Indonesia 2-0 Timor Leste

Sayap 'Garuda Muda' Membongkar Timor Leste

- Sepakbola
Sabtu, 21 Sep 2013 13:39 WIB
Sayap Garuda Muda Membongkar Timor Leste
Detiksurabaya/Bruriy Susanto
Jakarta - Indonesia akhirnya memastikan lolos ke final AFF U-19 setelah mengandaskan Timor Leste dengan skor 2-0. Gol yang diciptakan oleh Ilhamuddin Armain dan Hargianto memberi kesempatan pada Indonesia untuk membalaskan kekalahan atas Vietnam di babak grup, sekaligus untuk menorehkan sejarah pertama kalinya menggondol trofi AFF U-19.

Pada pertandingan ini pelatih Indra Sjafrie bisa menurunkan skuat terbaiknya. Dua pemain bertahan yang absen saat menghadapi Malaysia karena akumulasi kartu, Hansamu Yama dan Fatchurroham, bisa kembali diturunkan. Maldini Pali, yang dalam 3 laga sebelumnya diturunkan dari bangku cadangan, kali ini juga kembali menjadi starter.

Tidak ada kendala teknis bagi tim "Garuda Muda" ini untuk meraih hasil maksimal semalam. Kendala terbesar adalah soal taktikal yang sempat menyulitkan Indonesia untuk mencetak gol bahkan untuk sekadar membuat peluang emas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pressing Lini Tengah Timor Leste di 15 Menit Pertama

Timor Leste memulai pertandingan dengan percaya diri. Tidak terlihat gelagat akan menumpuk pemain di jantung pertahanannya sendiri. Terutama di 15 menit pertama, mereka berani melakukan tekanan sejak lini tengah guna menahan trio lini tengah Indonesia Evan Dimas-Hargianto-Zulfiandi untuk memasuki wilayahnya sendiri.


Gambar di atas menggambarkan bagaimana pressing pemain Timor Leste sudah dilakukan sejak wilayah Indonesia sendiri. Saat Evan Dimas menguasai bola [dalam lingkaran merah], mereka langsung membentuk garis pertahanan.

Inilah yang menyebabkan Indonesia sangat kesulitan memasuki final-third Timor Leste. Selama 15 menit pertama, umpan-umpan anak asuh Indra Sjafrie ini sedikit sekali yang bisa sampai di final third. Lihat chalkboard di bawah ini yang menggambarkan umpan pemain Indonesia di final third Timor Leste.



Timor Leste Mundur ke Belakang

Gol Ilham Udin Armain yang lahir pada menit 10 pelan tapi pasti membuat Timor Leste semakin mundur ke belakang. Sejak gol itu, anak asuh Norio Tsukitate itu seperti membiarkan Indonesia dengan mudah memasuki wilayah mereka.

Hanya saja, mereka tak membiarkan Indonesia untuk mudah membuat peluang. Memang benar Indonesia semakin gampang memasuki final third, tapi begitu mendekati kotak penalti kesulitan muncul. Timor Leste memasang 2 lapis pertahanan.

Mereka mundur jauh ke belakang. Bahkan ketika Indonesia bisa memasuki kotak penalti pun, para pemain Timor Leste tetap konsisten bermain dengan 2 garis pertahanan. Lihat gambar di bawah ini yang memperlihatkan Timor Leste konsisten membangun dua garis pertahanan walau pun itu dilakukan di dalam kotak penalti.



Kinerja Zulfiandi-Hargianto

Indonesia sendiri cenderung bermain dengan pola 4-2-1-3. Dalam pola itu, Evan Dimas bermain di belakang 3 pemain menyerang. Dalam banyak kesempatan, posisi Evan Dimas sering bertukar tempat dengan Muchlis Hadi Ning yang kerap turun ke bawah. Sementara Ilham dan Maldini Pali menjadi tukang gedor dari lebar lapangan.

Untuk memastikan 4 orang di unit menyerang itu bisa bekerja maksimal, maka Zulfiandi dan Hargianto secara konsisten menjaga kedalaman Indonesia. Dengan dominasi penguasaan bola yang tinggi, kedua jangkar ini akhirnya tak harus bermain sejajar. Mereka bertukar posisi satu sama lain dengan rapi. Kadang Zulfiandi yang naik, maka Hargianto yang berdiri di depan back-four. Begitu sebaliknya. Sehingga pola 4-2-1-3 kadang berubah menjadi 4-1-2-3 dengan salah satu dari keduanya naik sejajar dengan Evan Dimas.

Dalam banyak kesempatan, Indonesia bahkan kadang tampil dengan pola 4-2-4 saat Evan Dimas naik ke atas hampir beririsan dengan Muchlis. Gol kedua Indonesia, yang dicetak oleh Hargianto, juga lahir saat Indonesia menyerang dengan transformasi pola menjadi 4-2-4. Saat itu Evan Dimas sudah naik ke dalam kotak penalti sehingga Hargianto yang mengeksekusi bola muntah dari luar kotak penalti. Itu pun bermula dari umpan silang Zulfiandi yang masuk ke dalam kotak penalti dari sisi kanan.

Dua orang inilah, Zulfiandi-Hargianto, yang memastikan dominasi Indonesia dalam penguasaan bola. Selain dipermudah oleh cara bertahan Timor Leste yang jauh di kedalaman pertahanan, kinerja dua jangkar Indonesia ini yang memastikan Indonesia tidak kesulitan melakukan turn-over bahkan sejak wilayah Timor Leste sendiri.

Perhatikan dua chalkboard intersep dan tekel yang dilakukan Indonesia di bawah ini. Indonesia terlihat sangat agresif melakukan tindakan bertahan bahkan walau pun itu terjadi di final third lawan.





Melebarkan Permainan di Final Third

Kendati sangat dominan seperti yang sudah diuraikan di atas, upaya Indonesia untuk membuat peluang-peluang emas ternyata sangat sulit. Cara bertahan dengan memasang dua garis pertahanan sampai ke jantung pertahanan yang diperagakan Timor Leste membuat Indonesia sulit membuat peluang dari tengah.

Gambar di bawah ini bisa menggambarkan sulitnya Indonesia membongkar pertahanan lawan melalui tengah. Sayangnya, Indonesia kadang memaksakan diri membongkar pertahanan melalui tengah ini. Karena umpan satu dua sulit, tak jarang anak asuh Indra Sjafrie ini memaksakan diri memasuki jantung pertahanan dengan aksi individu. Dan ini gagal menghasilkan tentu saja.



Sepanjang gelaran AFF U-19, baru kali ini Indonesia menemukan lawan yang bertahan dengan pola grendel macam ini. Myanmar dan Vietnam di babak grup juga bertahan dengan memasang garis pertahanan yang rendah, tapi lini tengah mereka tidak ikut-ikutan turun ke bawah dan selalu berusaha mencegat Indonesia memasuki pertahanan.

Inilah yang membedakan cara menyerang Indonesia saat menghadapi Myanmar dan Timor Leste. Karena pressing Myanmar dilakukan sejak dini, Indonesia terpaksa langsung melebarkan permainan walau pun baru memasuki garis tengah. Lihat chalkboard di bawah ini yang menggambarkan cara menyerang Indonesia saat menghadapi Myanmar.



Sementara di laga ini, Indonesia baru mencoba melebarkan cara menyerang hanya saat bola sudah mendekati kotak penalti lawan. Tiap kali Indonesia memaksakan diri masuk ke dalam kotak penalti melalui tengah, baik lewat umpan atau pun aksi individu, seringkali berakhir dengan kegagalan.

Chalkboard produksi umpan Indonesia di final third banyak diwarnai kegagalan saat memaksakan umpan dari tengah.



Proses Gol Indonesia

Indonesia meraih hasil positif saat tak lagi memaksakan diri memasuki pertahanan lawan lewat tengah, tapi saat melebarkan aliran bola ini. Dua gol Indonesia selalu diawali oleh serangan dari sayap. Tapi, ada catatan khusus, serangan dari sayap ini baru membuahkan gol hanya jika berhasil memancing tumpukan pemain Timor Leste untuk ke luar ke sisi lapangan.



Gambar di atas menggambarkan proses gol pertama Indonesia. Gambar pertama memperlihatkan bagaimana Maldini Pali menguasai bola di sisi kanan. Pergerakannya berhasil memancing 4 pemain Timor [dalam kotak besar]. Ini membuat Ilham Armain leluasa di sisi kiri [kotak kecil]. Begitu Maldini melepaskan umpan pada Ilham, praktis dia hanya dihadang oleh seorang pemain Timor Leste.



Pada gol kedua [gambar di atas], proses yang sama hampir terjadi. Dari sisi kanan, Putu Gede dan Maldini Pali melakukan oper-operan beberapa kali bersama Zulfiandi yang naik ke atas. Ini memancing empat pemain Timor untuk bergerak ke sisi lapangan. Di dalam sebelah kiri, ada empat pemain Timor vs tiga pemain Indonesia.

Sehingga ketika Hargianto menerima bola muntah dan siap mengeksekusi dari luar kotak penalti di gambar sebelah kanan [Hargianto di dalam lingkaran], praktis tumpukan pemain Timor Leste di kotak penalti sudah tercerai berai.

Kesimpulan

Indonesia berhasil mengalahkan Timor Leste dengan tidak terlalu mudah. Agak mudah dalam menguasai bola, tapi secara taktik perlu kematangan bagi anak-anak muda ini untuk mengerti kapan memaksa diri menyerang dari tengah dan kapan menyerang dari lebar lapangan.

Timor Leste memberi pelajaran yang sebelumnya tak didapatkan Indonesia di babak grup. Laga ini memberi pelajaran berarti bagaimana menghadapi serta membongkar lawan yang bertahan jauh di kedalaman jantung pertahanan.

Vietnam di laga final jelas tak akan bermain seperti Timor Leste. Mereka punya kualitas yang jauh lebih baik dari lawan-lawan Indonesia sebelumnya, bahkan dari Indonesia sendiri. Kemenangan Vietnam di babak grup atas Indonesia menegaskan hal itu. Mereka berani memegang bola, juga efektif dalam membangun pertahanan sejak wilayah lawan. Indra Sjafrie perlu memutar otak guna memastikan anak asuhnya mampu meladeni Vietnam ini.


===

* Akun twitter penulis: @zenrs dari @panditfootball
* Tentang Pandit Football lihat di sini



(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads